A. Kesesuaian inovasi/Karakterisasi Lokasi

Luas lahan kering di Kalsel tercatat 1.400.370 Ha dan sekitar 471.139 Ha (33,64%) berada di Kabupaten Tanah Laut dan yang telah dimanfaatkan untuk tanaman pangan sekitar 70.394 ha atau 14,94 % (BPS Kalimantan Selatan, 1995). Luasnya lahan ini merupakan potensi yang belum optimal untuk diusahakan. ). sebagian besar didominasi oleh jenis tanah podsolik merah kuning yang tergolong marginal. Pola integrasi ternak dengan tanaman pangan maupun perkebunan mampu menjamin keberlanjutan produktivitas lahan melalui kelestarian sumberdaya alam yang ada. Pola ini dikenal sebagai crop livestock system (CLS) dan dewasa ini sudah banyak dikembangkan di berbagai Negara Asia.. Menurut Hardianto et al. (2001), teknologi usahatani terpadu (integrated farming system) merupakan alternative yang tepat sejalan dengan konsep pertanian berkelanjutan. Teknologi ini mengutamakan hubungan saling menguntungkan dan membutuhkan (komplementer) antara sub sitem usahatani.

GAMBARAN WILAYAH PENGADOPSI TEKNOLOGI

Pertanian Umum, AEZ dan FSZ, Produktivitas Pertanian, Dukungan Sumber daya wilayah, Kebutuhan Teknologi Inovasi, Kepemilikan lahan, Usaha Tani, sarana dan prasarana.

Desa Sumber Mulia, Kecamatan Pelaihari Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan merupakan wilayah pemekaran Desa Tampang yang posisinya strategis penghubung antar desa. Luas Desa Sumber Mulia adalah 10,5 Km persegi, yang terdiri dari perumahan, perkebunan, persawahan, tegalan, hutan dan padang alang-alang. Jarak desa Sumber Mulia ke Kecamatan Pelaihari : 12 Km, ke Kabupaten 12 Km dan ke propinsi (Banjarmasin) 80 Km. Curah Hujan rata-rata per bulan pada bulan basah 100 mm., dengan rataan temperatur 31 º Celsius. Bulan basah antara bulan November – April, dan bulan kering bulan Mei – Oktober. Tipe lahan jenis tanah merah, yang mempunyai kelerengan antara 3 – 8 % dengan tingkat kesuburan yang rendah dan tingkat erosi yang tinggi. Memiliki areal tanah yang berbukit-bukit atau bergelombang.Sarana dan Prasarana fisik berupa : Jalan aspal 1,5 Km, Pengerasan jalan baru 1,5 Km, Pos Kamling, pintu gerbang desa, plank papan atau etiket nama desa/ dusun/RT, Balai Desa, Mesjid, Mushola, Gereja, SD dan TK
Penggunaan lahan pertanian tanaman pangan terdiri dari : padi sawah (101 Ha), jagung (200 Ha), singkong (10 Ha), semangka (10 Ha), palawija (10 Ha). Populasi ternak : sapi (651 ekor), kambing (14 ekor), ayam (2000 ekor) dan itik (250 ekor). Untuk pengembangan perikanan, Desa Sumber Mulia memiliki bendungan sebanyak 24 buah, Mina Padi (15 Ha), Kolam ikan (39 Buah), Kolam pengembangan (3,5 Ha), sungai (3.650 meter) dan rawa 6,5 Ha. Luas lahan perkebunan yang dimiliki adalah karet (66 Ha), cengkeh (23,7 Ha), kopi (2,25 Ha), kelapa (4 Ha), dan buah-buahan (150 Ha).
Penduduk Desa Sumber Mulia sebanyak 1.155 jiwa, terdiri dari laki-laki 575 jiwa dan perempuan 580 jiwa, seluruhnya ada 309 KK. Tingkat kepadatan penduduk 10 Jiwa/Ha dengan tingkat pertumbuhan 1 % per tahun. Penduduk Desa Sumber Mulia beragam yang terdiri dari suku dan agama, yakni : Islam 1.065 Jiwa, Protestan 55 Jiwa, Kristen katolik 14 Jiwa, Hindu 21 Jiwa. Sedangkan menurut suku terdiri dari : suku Jawa (837 Jiwa), Banjar (285 ), Bali (21 ), Dayak (3), Lombok (5 ), Madura (3 ) dan Sunda (1 ). Mayoritas penduduk desa berusaha sebagai petani dan sebagian sebagai pedagang, Tingkat pendidikan yang dimiliki adalah Tamat Sarjana (4 orang), kuliah (8 orang), SMA (60 orang), SMP (120 orang) dan SD (200 orang). Pengembangan kesenian lokal berupa gamelan Jawa dan Bali untuk mengadakan acara-acara khusus, termasuk diantaranya kesenian kuda lumping.
Dari sisi peran kelembagaan menunjukkan bahwa usaha tani mayoritas adalah tanaman jagung dan berternak sapi potong, namun masih bersifat sektoral. Sejak bekerja sama dengan BPTP Kalsel, Dinas Peternakan dan Pemda Setempat, pola usaha tersebut telah diarahkan kepada program integrasi antara tanaman pangan (jagung dan padi ) dengan ternak sapi potong. Kegiatan ini mendapat sambutan yang positif dari Bupati Tanah laut (2004), sehingga masyarakat petani jagung yang tergabung dengan kelompok tani “ Rumpun Pemuda Tani “ yang resminya dibentuk pada 15 Desember 2001, merupakan peleburan dari 2 kelompok tani sebelumnya yaitu kelompok Melati dan Suka Maju Perdana. Anggota Kelompok Tani Rumpun Pemuda Tani sebanyak 20 orang yang terdiri dari Kawula Muda berbagai suku dan agama yang ada di desa setempat dan merupakan kelompok pembaharuan desa.

B. Keunggulan/nilai tambah inovasi
PENCIPTAAN , DISEMINASI DAN ADOPSI PAKET TEKNOLOGI
Paket teknologi unggulan, Managemen diseminasi paket teknologi, proses dan perkembangan adopsi paket teknologi, faktor-faktor kesuksesan.

Tahapan teknologi budidaya jagung yaitu :
• Pengolahan tanah, 2 kali traktor, pupuk dasar fine compost dosis 3 ton/ Ha
• Tanam : Jagung (varietas BISI 2) ditanam dengan cara ditugal (kedalaman  5 cm), jarak tanam 70 x 20 cm 1 tanaman per lubang. Benih jagung yang telah dimasukkan ke dalam lubang tanam segera ditutup dengan tanah maupun pupuk kandang,
• Pemupukan : 1/3 urea diberikan saat tanam dan 2/3 urea diberikan saat tanaman berumur 30 hari setelah tanam. Pupuk SP-36 dan KCl seluruhnya diberikan pada saat tanam. diberikan dengan cara ditugal atau dilarik disamping barisan tanaman, kemudian ditutup rapat. Pupuk kandang diberikan seluruhnya pada saat tanam sekaligus sebagai penutup lubang tanaman jagung/pupuk kimia. Dosis pupuk adalah Urea ( 300 Kg/Ha), SP 36 ( 100 Kg/Ha), KCl ( 100 Kg/Ha) dan Pupuk kandang Fine Compost ( 2,5-3 ton/ Ha),
• Pemeliharaan : Pemeliharaan yang dilakukan yaitu penyulaman, penyiangan dan pembumbunan, dan pengendalian hama/penyakit. Penyulaman dilaksanakan antara 5 – 7 hari setelah tanam. Penyulaman tidak boleh dilakukan sampai terlambat, sebab akan menyebabkan pertumbuhan dan waktu masak tidak serempak. Penyiangan dilaksanakan saat tanaman jagung berumur 30 hari setelah tanam. Pembumbunan dilaksanakan setelah tanaman berumur 30 hari, agar tanaman kokoh dan tidak mudah rebah. Pengendalian hama dan penyakit dilaksanakan berdasarkan konsep pengendalian hama terpadu (PHT),
• Panen : Jagung yang siap dipanen adalah jagung yang secara fisiologis telah masak, dengan ciri-ciri antara lain; kelobot berwarna kuning kecoklatan, timbul jaringan hitam pada pangkal biji, biji mengkilap dan bila ditekan dengan kuku tidak membekas.

Tahapan teknologi budidaya sapi yaitu :
• Teknologi budidaya sapi potong yang diintroduksikan yaitu perbaikan manajemen berupa pemeliharaan ternak secara terkurung dengan kandang kolektif, pemberian pakan lengkap sebanyak 3% dari berat badan, pemberian UMB (Urea Multinutrient Block) sebanyak 250 gram/ekor/minggu, pencegahan penyakit dengan cara pemberian obat cacing dan vitamin B compleks. Ternak sapi disediakan air minum sebanyak 40-50 liter/ekor/hari. Pakan lengkap yang diberikan pada ternak, terlebih dahulu diadaptasikan selama 3 minggu yaitu pada minggu pertama diberikan 1 kg/ekor/hari, minggu kedua 2 kg/ekor/hari dan minggu ketiga 3 kg/ekor/hari. Pada minggu keempat pakan lengkap diberikan sekitar 3% dari berat badan sapi.
• Kotoran sapi yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai pupuk dasar untuk tanaman jagung. Kotoran sapi ini difermentasi dengan menggunakan probiotik (Stardec) selama minimal 3 minggu sehingga dihasilkan fine compost. Bahan yang diperlukan dalam pembuatan fine compost yaitu : kotoran sapi 1.000 kg, Stardec 2,5 kg, urea 2,5 kg, SP-36 2,5 kg, serbuk gergaji 100 kg, abu gosok 100 kg, Kalsit/dolomite 2 kg dan air. Cara pembuatan : bahan seperti stardec, urea, SP-36 dan kalsit dicampur merata (bahan A), kotoran sapi dicampur dengan serbuk gergaji dan abu gosok secara merata (B), bahan A dan B dicampur merata dan ditambahkan air sehingga diperoleh kadar air kira-kira 60%, inkubasi selama 3 minggu, setiap minggu lakukan pembalikan, kotoran sapi yang difermentasi dilakukan di bawah naungan, atau ditutup dengan terpal/daun pisang/daun kelapa/ ditutup terpal agar tidak kena panas dan hujan langsung.
• Pendampingan dalam penetrapan teknologi dilakukan oleh peneliti dan penyuluh BPTP Kalsel, Penyuluh Lapangan dan BPP, Jajaran Dinas Pertanian Kabpaten Tala, yang diikuti secara partisipatif aktif oleh seluruh anggota kelompok serta masyarakat Desa Sumber Mulia beserta jajarannya. Adapun pendapingan teknologi yang diberikan adalah : (a) Pelatihan petani, petugas lapang, (b) Sosialisasi program yang diikuti baik dalam maupun luar desa dan (c) Pembinaan Kelembagaan. Pendampingan tersebut dimaksudkan untuk mempercepat adopsi teknologi yang ingin diintroduksikan, menyamakan persepsi seluruh pihak yang terkait, pemberdayaan kelompok atau kelembagaan untuk memberi arah kepada usaha komersial dan (d) Petani memahami dan mampu menjadi fasilitator dalam penyebarluasan teknologi yang diintroduksika

ADOPSI DAN DAMPAK PAKET TEKNOLOGI

Peningkatan budidaya tanaman dan peternakan, peningkatan produktivitas dan pendapatan usahatani serta peluang kerja, berkembangnya agribisnis pedesaan, peningkatan kesejahteraan petani, berfungsinya kelembagaan pertanian pedesaan.

usahatani jagung diperoleh hasil bahwa pendapatan dari jagung yang dipupuk dengan kotoran sapi lebih tinggi sekitar Rp 168.000 atau 5,44% dari jagung yang dipupuk kotoran ayam. Nilai R/C yang dihasilkan lebih tinggi pada jagung yang dipupuk dengan kotoran sapi (1,88) hal ini disebabkan karena adanya penekanan pembelian pupuk dari kotoran ayam menjadi kotoran sapi (7,55%). Beberapa asumsi yang digunakan yaitu harga jagung yang berlaku Rp. 1.100/kg, harga kotoran ayam Rp 7.000/zak (sampai ditempat), kotoran sapi Rp 3.500/zak.

Tabel 2. Keragaan ternak sapi bakalan yang diamati selama 90 hari

No Uraian Perlakuan Kontrol
1 Bobot badan awal (kg) 152 151
2 Bobot badan akhir (kg) 197 163,6
3 PBBH (kg/ekor/hari) 0,500 0,140
4 Konsumsi CF (kg) 3,52 –
5 Konsumsi rumput dalam BK (kg) 1 5
5 Konversi pakan (kg) 9,04 35,71

6 Jumlah ternak (ekor) 20 20
Keterangan : ? : data tidak diamati, karena pemeliharaan dilepas

Tabel 14. Analisis biaya dan pendapatan dari sistem integrasi dan non integrasi di lahan kering dengan luas tanam jagung 3 ha dan 20 ekor ternak sapi per musim

Uraian : Integrasi Kontrol
Input : Rp Rp
Jagung 11.125.800 11.992.800
Sapi 50.252.200 49.955.800
Jumlah 61.378.000 61.948.600

Output :
Jagung 20.889.000 23.520.000
Sapi 60.000.000 49.380.000
Jumlah 80.889.000 72.900.000
Pendapatan 19.511.000 10.951.400
R/C 1,32 1,18

Dampak Kelembagaan
Usaha yang telah dilakukan oleh kelompok Rumpun Pemuda Tani yaitu : Menyewakan hand tractor dengan upah Rp 15.000/borong, Memasarkan bibit jagung, Memasarkan benih padi dan Simpan pinjam. Khusus tentang jasa simpan pinjam telah berlaku ketentuan sebagai berikut (a) Simpanan wajib Rp. 1000/bulan, Simpanan Pokok Rp 25.000, bunga pinjaman 2,5 % /bulan dan simpanan 5 kaleng padi per panen sebagai upaya pemupukan modal. Sejak Tahun 2004 telah dikeluarkan jasa simpan pinjam sebanyak Rp 400.000 kepada anggota.. Kelompok tani ini telah melakukan kerjasama dari berbagai pihak yaitu : (a) Distributor bibit jagung : untuk memasarkan bibit jagung dengan harga pasaran,(b) Swasta/pengusaha : mendapatkan pinjaman dana untuk biaya tanam jagung berupa saprodi dan dibayar saat panen dengan bunga 2,5%, (c) Dinas Pertanian : Kredit hand tractor 1 unit seharga Rp 19.000.000, (d) Kelompok tani dari Kurau : untuk bekerjasama menyusun pakan ikan , (e) SNAKMA : untuk kerjasama penyusunan pakan ternak , (f) Dinas Pertanian dan PT. Pertani : meminjamkan saprodi untuk penanaman jagung seluas 30 Ha pada bulan Februari 2005 atau nilai uangnya sekitar Rp. 63.000.000

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Integrasi tanaman jagung dan ternak sapi potong di lahan kering Kalimantan Selatan

A. Kesesuaian inovasi/Karakterisasi Lokasi

Luas lahan kering di Kalsel tercatat 1.400.370 Ha dan sekitar 471.139 Ha (33,64%) berada di Kabupaten Tanah Laut dan yang telah dimanfaatkan untuk tanaman pangan sekitar 70.394 ha atau 14,94 % (BPS Kalimantan Selatan, 1995). Luasnya lahan ini merupakan potensi yang belum optimal untuk diusahakan. ). sebagian besar didominasi oleh jenis tanah podsolik merah kuning yang tergolong marginal. Pola integrasi ternak dengan tanaman pangan maupun perkebunan mampu menjamin keberlanjutan produktivitas lahan melalui kelestarian sumberdaya alam yang ada. Pola ini dikenal sebagai crop livestock system (CLS) dan dewasa ini sudah banyak dikembangkan di berbagai Negara Asia.. Menurut Hardianto et al. (2001), teknologi usahatani terpadu (integrated farming system) merupakan alternative yang tepat sejalan dengan konsep pertanian berkelanjutan. Teknologi ini mengutamakan hubungan saling menguntungkan dan membutuhkan (komplementer) antara sub sitem usahatani.

GAMBARAN WILAYAH PENGADOPSI TEKNOLOGI

Pertanian Umum, AEZ dan FSZ, Produktivitas Pertanian, Dukungan Sumber daya wilayah, Kebutuhan Teknologi Inovasi, Kepemilikan lahan, Usaha Tani, sarana dan prasarana.

Desa Sumber Mulia, Kecamatan Pelaihari Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan merupakan wilayah pemekaran Desa Tampang yang posisinya strategis penghubung antar desa. Luas Desa Sumber Mulia adalah 10,5 Km persegi, yang terdiri dari perumahan, perkebunan, persawahan, tegalan, hutan dan padang alang-alang. Jarak desa Sumber Mulia ke Kecamatan Pelaihari : 12 Km, ke Kabupaten 12 Km dan ke propinsi (Banjarmasin) 80 Km. Curah Hujan rata-rata per bulan pada bulan basah 100 mm., dengan rataan temperatur 31 º Celsius. Bulan basah antara bulan November – April, dan bulan kering bulan Mei – Oktober. Tipe lahan jenis tanah merah, yang mempunyai kelerengan antara 3 – 8 % dengan tingkat kesuburan yang rendah dan tingkat erosi yang tinggi. Memiliki areal tanah yang berbukit-bukit atau bergelombang.Sarana dan Prasarana fisik berupa : Jalan aspal 1,5 Km, Pengerasan jalan baru 1,5 Km, Pos Kamling, pintu gerbang desa, plank papan atau etiket nama desa/ dusun/RT, Balai Desa, Mesjid, Mushola, Gereja, SD dan TK
Penggunaan lahan pertanian tanaman pangan terdiri dari : padi sawah (101 Ha), jagung (200 Ha), singkong (10 Ha), semangka (10 Ha), palawija (10 Ha). Populasi ternak : sapi (651 ekor), kambing (14 ekor), ayam (2000 ekor) dan itik (250 ekor). Untuk pengembangan perikanan, Desa Sumber Mulia memiliki bendungan sebanyak 24 buah, Mina Padi (15 Ha), Kolam ikan (39 Buah), Kolam pengembangan (3,5 Ha), sungai (3.650 meter) dan rawa 6,5 Ha. Luas lahan perkebunan yang dimiliki adalah karet (66 Ha), cengkeh (23,7 Ha), kopi (2,25 Ha), kelapa (4 Ha), dan buah-buahan (150 Ha).
Penduduk Desa Sumber Mulia sebanyak 1.155 jiwa, terdiri dari laki-laki 575 jiwa dan perempuan 580 jiwa, seluruhnya ada 309 KK. Tingkat kepadatan penduduk 10 Jiwa/Ha dengan tingkat pertumbuhan 1 % per tahun. Penduduk Desa Sumber Mulia beragam yang terdiri dari suku dan agama, yakni : Islam 1.065 Jiwa, Protestan 55 Jiwa, Kristen katolik 14 Jiwa, Hindu 21 Jiwa. Sedangkan menurut suku terdiri dari : suku Jawa (837 Jiwa), Banjar (285 ), Bali (21 ), Dayak (3), Lombok (5 ), Madura (3 ) dan Sunda (1 ). Mayoritas penduduk desa berusaha sebagai petani dan sebagian sebagai pedagang, Tingkat pendidikan yang dimiliki adalah Tamat Sarjana (4 orang), kuliah (8 orang), SMA (60 orang), SMP (120 orang) dan SD (200 orang). Pengembangan kesenian lokal berupa gamelan Jawa dan Bali untuk mengadakan acara-acara khusus, termasuk diantaranya kesenian kuda lumping.
Dari sisi peran kelembagaan menunjukkan bahwa usaha tani mayoritas adalah tanaman jagung dan berternak sapi potong, namun masih bersifat sektoral. Sejak bekerja sama dengan BPTP Kalsel, Dinas Peternakan dan Pemda Setempat, pola usaha tersebut telah diarahkan kepada program integrasi antara tanaman pangan (jagung dan padi ) dengan ternak sapi potong. Kegiatan ini mendapat sambutan yang positif dari Bupati Tanah laut (2004), sehingga masyarakat petani jagung yang tergabung dengan kelompok tani “ Rumpun Pemuda Tani “ yang resminya dibentuk pada 15 Desember 2001, merupakan peleburan dari 2 kelompok tani sebelumnya yaitu kelompok Melati dan Suka Maju Perdana. Anggota Kelompok Tani Rumpun Pemuda Tani sebanyak 20 orang yang terdiri dari Kawula Muda berbagai suku dan agama yang ada di desa setempat dan merupakan kelompok pembaharuan desa.

B. Keunggulan/nilai tambah inovasi
PENCIPTAAN , DISEMINASI DAN ADOPSI PAKET TEKNOLOGI
Paket teknologi unggulan, Managemen diseminasi paket teknologi, proses dan perkembangan adopsi paket teknologi, faktor-faktor kesuksesan.

Tahapan teknologi budidaya jagung yaitu :
• Pengolahan tanah, 2 kali traktor, pupuk dasar fine compost dosis 3 ton/ Ha
• Tanam : Jagung (varietas BISI 2) ditanam dengan cara ditugal (kedalaman  5 cm), jarak tanam 70 x 20 cm 1 tanaman per lubang. Benih jagung yang telah dimasukkan ke dalam lubang tanam segera ditutup dengan tanah maupun pupuk kandang,
• Pemupukan : 1/3 urea diberikan saat tanam dan 2/3 urea diberikan saat tanaman berumur 30 hari setelah tanam. Pupuk SP-36 dan KCl seluruhnya diberikan pada saat tanam. diberikan dengan cara ditugal atau dilarik disamping barisan tanaman, kemudian ditutup rapat. Pupuk kandang diberikan seluruhnya pada saat tanam sekaligus sebagai penutup lubang tanaman jagung/pupuk kimia. Dosis pupuk adalah Urea ( 300 Kg/Ha), SP 36 ( 100 Kg/Ha), KCl ( 100 Kg/Ha) dan Pupuk kandang Fine Compost ( 2,5-3 ton/ Ha),
• Pemeliharaan : Pemeliharaan yang dilakukan yaitu penyulaman, penyiangan dan pembumbunan, dan pengendalian hama/penyakit. Penyulaman dilaksanakan antara 5 – 7 hari setelah tanam. Penyulaman tidak boleh dilakukan sampai terlambat, sebab akan menyebabkan pertumbuhan dan waktu masak tidak serempak. Penyiangan dilaksanakan saat tanaman jagung berumur 30 hari setelah tanam. Pembumbunan dilaksanakan setelah tanaman berumur 30 hari, agar tanaman kokoh dan tidak mudah rebah. Pengendalian hama dan penyakit dilaksanakan berdasarkan konsep pengendalian hama terpadu (PHT),
• Panen : Jagung yang siap dipanen adalah jagung yang secara fisiologis telah masak, dengan ciri-ciri antara lain; kelobot berwarna kuning kecoklatan, timbul jaringan hitam pada pangkal biji, biji mengkilap dan bila ditekan dengan kuku tidak membekas.

Tahapan teknologi budidaya sapi yaitu :
• Teknologi budidaya sapi potong yang diintroduksikan yaitu perbaikan manajemen berupa pemeliharaan ternak secara terkurung dengan kandang kolektif, pemberian pakan lengkap sebanyak 3% dari berat badan, pemberian UMB (Urea Multinutrient Block) sebanyak 250 gram/ekor/minggu, pencegahan penyakit dengan cara pemberian obat cacing dan vitamin B compleks. Ternak sapi disediakan air minum sebanyak 40-50 liter/ekor/hari. Pakan lengkap yang diberikan pada ternak, terlebih dahulu diadaptasikan selama 3 minggu yaitu pada minggu pertama diberikan 1 kg/ekor/hari, minggu kedua 2 kg/ekor/hari dan minggu ketiga 3 kg/ekor/hari. Pada minggu keempat pakan lengkap diberikan sekitar 3% dari berat badan sapi.
• Kotoran sapi yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai pupuk dasar untuk tanaman jagung. Kotoran sapi ini difermentasi dengan menggunakan probiotik (Stardec) selama minimal 3 minggu sehingga dihasilkan fine compost. Bahan yang diperlukan dalam pembuatan fine compost yaitu : kotoran sapi 1.000 kg, Stardec 2,5 kg, urea 2,5 kg, SP-36 2,5 kg, serbuk gergaji 100 kg, abu gosok 100 kg, Kalsit/dolomite 2 kg dan air. Cara pembuatan : bahan seperti stardec, urea, SP-36 dan kalsit dicampur merata (bahan A), kotoran sapi dicampur dengan serbuk gergaji dan abu gosok secara merata (B), bahan A dan B dicampur merata dan ditambahkan air sehingga diperoleh kadar air kira-kira 60%, inkubasi selama 3 minggu, setiap minggu lakukan pembalikan, kotoran sapi yang difermentasi dilakukan di bawah naungan, atau ditutup dengan terpal/daun pisang/daun kelapa/ ditutup terpal agar tidak kena panas dan hujan langsung.
• Pendampingan dalam penetrapan teknologi dilakukan oleh peneliti dan penyuluh BPTP Kalsel, Penyuluh Lapangan dan BPP, Jajaran Dinas Pertanian Kabpaten Tala, yang diikuti secara partisipatif aktif oleh seluruh anggota kelompok serta masyarakat Desa Sumber Mulia beserta jajarannya. Adapun pendapingan teknologi yang diberikan adalah : (a) Pelatihan petani, petugas lapang, (b) Sosialisasi program yang diikuti baik dalam maupun luar desa dan (c) Pembinaan Kelembagaan. Pendampingan tersebut dimaksudkan untuk mempercepat adopsi teknologi yang ingin diintroduksikan, menyamakan persepsi seluruh pihak yang terkait, pemberdayaan kelompok atau kelembagaan untuk memberi arah kepada usaha komersial dan (d) Petani memahami dan mampu menjadi fasilitator dalam penyebarluasan teknologi yang diintroduksika

ADOPSI DAN DAMPAK PAKET TEKNOLOGI

Peningkatan budidaya tanaman dan peternakan, peningkatan produktivitas dan pendapatan usahatani serta peluang kerja, berkembangnya agribisnis pedesaan, peningkatan kesejahteraan petani, berfungsinya kelembagaan pertanian pedesaan.

usahatani jagung diperoleh hasil bahwa pendapatan dari jagung yang dipupuk dengan kotoran sapi lebih tinggi sekitar Rp 168.000 atau 5,44% dari jagung yang dipupuk kotoran ayam. Nilai R/C yang dihasilkan lebih tinggi pada jagung yang dipupuk dengan kotoran sapi (1,88) hal ini disebabkan karena adanya penekanan pembelian pupuk dari kotoran ayam menjadi kotoran sapi (7,55%). Beberapa asumsi yang digunakan yaitu harga jagung yang berlaku Rp. 1.100/kg, harga kotoran ayam Rp 7.000/zak (sampai ditempat), kotoran sapi Rp 3.500/zak.

Tabel 2. Keragaan ternak sapi bakalan yang diamati selama 90 hari

No Uraian Perlakuan Kontrol
1 Bobot badan awal (kg) 152 151
2 Bobot badan akhir (kg) 197 163,6
3 PBBH (kg/ekor/hari) 0,500 0,140
4 Konsumsi CF (kg) 3,52 –
5 Konsumsi rumput dalam BK (kg) 1 5
5 Konversi pakan (kg) 9,04 35,71

6 Jumlah ternak (ekor) 20 20
Keterangan : ? : data tidak diamati, karena pemeliharaan dilepas

Tabel 14. Analisis biaya dan pendapatan dari sistem integrasi dan non integrasi di lahan kering dengan luas tanam jagung 3 ha dan 20 ekor ternak sapi per musim

Uraian : Integrasi Kontrol
Input : Rp Rp
Jagung 11.125.800 11.992.800
Sapi 50.252.200 49.955.800
Jumlah 61.378.000 61.948.600

Output :
Jagung 20.889.000 23.520.000
Sapi 60.000.000 49.380.000
Jumlah 80.889.000 72.900.000
Pendapatan 19.511.000 10.951.400
R/C 1,32 1,18

Dampak Kelembagaan
Usaha yang telah dilakukan oleh kelompok Rumpun Pemuda Tani yaitu : Menyewakan hand tractor dengan upah Rp 15.000/borong, Memasarkan bibit jagung, Memasarkan benih padi dan Simpan pinjam. Khusus tentang jasa simpan pinjam telah berlaku ketentuan sebagai berikut (a) Simpanan wajib Rp. 1000/bulan, Simpanan Pokok Rp 25.000, bunga pinjaman 2,5 % /bulan dan simpanan 5 kaleng padi per panen sebagai upaya pemupukan modal. Sejak Tahun 2004 telah dikeluarkan jasa simpan pinjam sebanyak Rp 400.000 kepada anggota.. Kelompok tani ini telah melakukan kerjasama dari berbagai pihak yaitu : (a) Distributor bibit jagung : untuk memasarkan bibit jagung dengan harga pasaran,(b) Swasta/pengusaha : mendapatkan pinjaman dana untuk biaya tanam jagung berupa saprodi dan dibayar saat panen dengan bunga 2,5%, (c) Dinas Pertanian : Kredit hand tractor 1 unit seharga Rp 19.000.000, (d) Kelompok tani dari Kurau : untuk bekerjasama menyusun pakan ikan , (e) SNAKMA : untuk kerjasama penyusunan pakan ternak , (f) Dinas Pertanian dan PT. Pertani : meminjamkan saprodi untuk penanaman jagung seluas 30 Ha pada bulan Februari 2005 atau nilai uangnya sekitar Rp. 63.000.000

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Dinamika Kelompok

DINAMIKA KELOMPOK

UNTUK MENINGKATKAN EFEKTIVITAS KERJA TIM

Arief Darmawan ( Penyuluh BPTP Kalsel )

18 Juli 2009, di Banjarbaru

Pendahuluan.

Kebutuhan akan pentingnya mengetahui dan memahami tentang dinamika kelompok atau proses-proses interaksi yang terjadi di dalam kelompok semakin hari semakin meningkat. Sebagai mahluk sosial, manusia memang tidak mungkin hidup sendiri tanpa ada orang lain bersamanya, apakah itu dalam keluarga, dalam kehidupan bermasyarakat, di kantor dan sebagainya. Dari hari pertama dilahirkan, kita sudah merupakan bagian dari kelompok yang dikenal sebagai keluarga; kita tidak mungkin dapat bertahan hidup pada menit-menit pertama, minggu-minggu pertama malahan pada tahun-tahun pertama setelah kelahiran tanpa bantuan dari kelompok (keluarga). Dan melalui keluarga ini pula kita mulai belajar bagaimana harus bersosialisasi, yang mana nantinya merupakan dasar dari pola tingkah laku dan pola berpikir serta mendidik kita agar mempunyai perspektif tertentu terhadap diri sendiri dan dunia luar/lingkungan. Selanjutnya, hari demi hari kita lalui bersama kelompok, dari satu kelompok ke kelompok yang lain, baik formal maupun informal. Dan dalam kelompok-kelompok ini interaksi kita dengan orang lain dalam kelompok tidak dapat terhindarkan. Dari berbagai studi tentang perilaku dan kepribadian menunjukkan bahwa bentuk perlakuan yang diterima seseorang dalam kelompoknya mempunyai kontribusi yang cukup besar dalam menentukan identitas kepribadian seseorang.

Dari keterangan diatas, dapat kita lihat bahwa kehidupan dalam kelompok sangatlah dinamis. Semakin efektif suatu kelompok, semakin baik pula kualitas kehidupan anggota-anggotanya. Yang penting diperhatikan agar kelompok tersebut tetap efektif adalah pengetahuan yang cukup tentang dinamika atau proses-proses yang terjadi serta kemampuan kita untuk berperilaku secara efektif dalam kelompok. Kedua hal penting ini dapat kita pelajari melalui pemahaman tentang dinamika kelompok.

Dinamika kelompok sebenarnya adalah bagian dari ilmu pengetahuan sosial yang lebih menekankan perhatiannya pada interaksi manusia dalam kelompok yang kecil. Pada berbagai referensi, istilah dinamika kelompok ini disebut juga dengan proses-proses kelompok (group processes). Jelas dari terminologi ini bahwa pengertian dari dinamika kelompok ataupun proses kelompok ini menggambarkan semua hal atau proses yang terjadi dalam kelompok akibat adanya interaksi individu-individu yang ada dalam kelompok itu.

Studi mengenai interaksi antar individu dalam kelompok oleh para ahli psikologi telah dimulai sejak awal tahun 1900-an. Kemudian oleh Kurt Lewin, seorang ahli psikologi kelahiran Polandia mulai dikembangkan lebih dalam mengenai dinamika kelompok ini. Beliau menekankan bahwa untuk mempelajari dan memahami tentang dinamika kelompok adalah dengan cara menerapkannya (learning by doing).

Fritz Heider, seorang ahli psikologi lain, dalam Teori Keseimbangan-nya (Balanced Theory) yang membahas mengenai hubungan-hubungan antar pribadi menerangkan bahwa individu-individu sebagai bagian dari struktur sosial cenderung untuk menjalin hubungan satu sama lain. Dan menurutnya, salah satu cara bagaimana suatu kelompok dapat berhubungan adalah dengan menjalin komunikasi secara terbuka.

Dewasa ini, upaya peningkatan kerja tim merupakan alternatif utama dalam meningkatkan efisiensi, efektifitas serta produktifitas suatu organisasi.

Pengertian

Dinamika kelompok berasal dari kata dinamika dan kelompok. Dinamika berarti interaksi atau interdependensi antara kelompok satu dengan yang lain, sedangkan Kelompok adalah kumpulan individu yang saling berinteraksi dan mempunyai tujuan bersama.

Maka Dinamika Kelompok merupakan suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih individu yang memiliki hubungan psikologis secara jelas antara anggota satu dengan yang lain dan berlangsung dalam situasi yang dialami.

Fungsi dari dinamika kelompok itu antara lain:

  • Membentuk kerjasama saling menguntungkan dalam mengatasi persoalan hidup. (Bagaimanapun manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.)
  • Memudahkan segala pekerjaan.

(Banyak pekerjaan yang tidak dapat dilaksanakan tanpa bantuan orang lain)

  • Mengatasi pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah dan mengurangi beban pekerjaan yang terlalu besar sehingga seleseai lebih cepat, efektif dan efesian.

(pekerjaan besar dibagi-bagi sesuai bagian kelompoknya masing-masing / sesuai keahlian)

  • Menciptakan iklim demokratis dalam kehidupan masyarakat

(setiap individu bisa memberikan masukan dan berinteraksi dan memiliki peran yang sama dalam masyarakat)

Pembentukan Kelompok

Tim diawali dengan pembentukan kelompok, yang didasarkan adanya hal-hal berikut:

Persepsi

Pembagian kelompok didasarkan pada tingkat kemampuan intelegensi yang dilihat dari pencapaian akademis.

Motivasi

Pembagian kekuatan yang berimbang akan memotivasi anggota kelompok untuk berkompetisi secara sehat dalam mencapai tujuan kelompok. Perbedaan kemampuan yang ada pada setiap kelompok juga akan memicu kompetisi internal

Tujuan

Terbentuknya kelompok karena memiliki tujuan bersama

Organisasi

Pengorganisasian dilakukan untuk mempermudah koordinasi dan proses kegiatan kelompok. Dengan demikian masalah kelompok dapat diselesaikan secara lebih efesien dan efektif.

Independensi

Kebebasan merupakan hal penting dalam dinamika kelompok. Kebebasan disini merupakan kebebasan setiap anggota untuk menyampaikan ide, pendapat, serta ekspresi selama kegiata

Interaksi

Interaksi merupakan syarat utama dalam dinamika kelompok, karena dengan interaksi akan ada proses transfer ilmu dapat berjalan secara horizontal yang didasarkan atas kebutuhan akan informasi tentang pengetahuan tersebut.

perkembangan kelompok dapat dibagi menjadi tiga tahap :

Tahap pra afiliasi

tahap permulaan, diawali dengan adanya perkenalan semua individu akan saling mengenal satu sama lain. Kemudian hubungan berkembang menjadi kelompok yang sangat akrab dengan saling mengenal sifat dan nilai masing-masing anggota.

Tahap fungsional

Ditandai dengan adanya perasaan senang antara satu dengan yang lain, tercipta homogenitas, kecocokan, dan kekompakan dalam kelompok. Pada akhirnya akan terjadi pembagian dalam menjalankan fungsi kelompok.

Tahap disolusi

Tahap ini terjadi apabila keanggotaan kelopok sudah mempunyai rasa tidak membutuhkan lagi dalam kelompok. Tidak ada kekompakan maupun keharmonisan yang akhirnya diikuti dengan pembubaran kelompok.

faktor yang menghambat maupun memperlancar proses Dinamika kelompok , berupa kelebihan maupun kekurangan

Kelebihan Kelompok

Keterbukaan antar anggota kelompok untuk memberi dan menerima informasi & pendapat anggota yang lain. Kemauan anggota kelompok untuk mendahulukan kepentingan kelompoknya dengan menekan kepentingan pribadi demi tercapainya tujuan kelompok. Kemampuan secara emosional dalam mengungkapkan kaidah dan norma yang telah disepakati kelompok.

Kekurangan Kelompok

Kelemahan pada kelompok bisa disebabkan karena waktu penugasan, tempat atau jarak anggota kelompok yang berjauhan yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas pertemuan.

Gambar-1, Bagan Jenis-jenis Kelompok

Teknik pembentukan kelompok.

Secara definitif, kelompok adalah dua orang atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama, saling berinteraksi, saling adanya ketergantungan dalam mencapai tujuan bersama, adanya rasa kebersamaan dan memiliki, mempunyai norma-norma dan nilai-nilai tertentu.

Secara umum ada 3 (tiga) hal yang menunjukkan efektif atau tidaknya suatu kelompok, yaitu kemampuan kelompok tersebut dalam mencapai tujuannya seoptimal mungkin, kemampuan kelompok dalam mempertahankan kelompoknya agar tetap serasi, selaras dan seimbang dan yang ketiga adalah kemampuan kelompok untuk berkembang dan berubah sehingga dapat terus meningkatkan kinerjanya.

Ada beberapa hal pokok yang perlu diperhatikan dalam upaya pembentukan kelompok/tim, yaitu :

1. Adanya ketergantungan yang sifatnya positif (positive interdependency).

2. Keandalan individu (individual accountability).

3. lnteraksi langsung (face-to-face interaction).

4. Ketrampilan kerjasama (collaborative skills).

5. Proses kelompok (group processing).

Konflik dalam kelompok.

Sepanjang individu berinteraksi dengan individu lain, konflik tidak mungkin terhindarkan. Konflik dapat terjadi dalam menentukan suatu tujuan atau dalam menentukan metode yang akan diambil untuk mencapai tujuan.

Konflik dapat terjadi bila perhatian utama anggota kelompok diarahkan pada diri sendiri. Dalam hal ini perspektif mereka menjadi sempit dan orientasi mereka hanya pada jangka waktu pendek saja

Secara umum, faktor-faktor yang dapat merupakan sumber konflik antara lain adalah :

􀂾 perbedaan-perbedaan keinginan, nilai, tujuan

􀂾 adanya keterbatasan akan sumber tertentu seperti kekuasaan, kedudukan, waktu, popularitas, uang dan lain-lain

􀂾 persaingan (rivalry)

Konflik tidak selamanya memberikan dampak yang jelek pada kelompok ataupun organisasi. Di dalam organisasi yang sehat justru konflik dianjurkan, hal ini sering dikenal dengan istilah kontroversi.

Berbagai studi dalam bidang ilmu perilaku oranisasi yang menunjukkan bahwa adu argumentasi, ketidaksetujuan, debat, ide-ide atau informasi yang bermacam-macam ternyata sangat penting dalam meningkatkan kreatifitas dan kualitas kelompok. Keuntungan yang diperoleh dengan adanya konflik antara lain adalah anggota kelompok akan lebih terstimulasi atau terangsang untuk berpikir atau berbuat sehingga mengakibatkan kelompok menjadi lebih dinamis dan berkembang karena setiap orang mempunyai kesempatan untuk menuangkan ide-ide atau buah pikirannya secara lebih terbuka. Namun, untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam artian produktif konstruktif, konflik harus dikendalikan secara positif.

Kerugian yang ditimbulkan oleh konflik biasanya disebabkan karena konflik tersebut biarkan berjalan dalam waktu yang lama dan berkepanjangan atau dibiarkan menjadi semakin meruncing tanpa ada penyelesaian. Tentu hal ini dapat merusak iklim kerja dan pada akhirnya akan berpengaruh pada kinerja kelompok.

Pada dasarnya konflik yang terjadi dapat dikategorikan dalam dua bentuk yaitu konflik antar individu (interpersonal conflict) dan konflik antar kelompok (intergroup onflict). Diantara kedua bentuk ini, konflik antar individu merupakan permasalahan yang cukup serius karena keadaan ini dapat mempengaruhi emosi individu secara mendalam dan bila keadaan ini tidak dikendalikan secara tepat maka cepat atau lambat dapat merusak iklim kerja baik dalam kelompok maupun organisasi.

Bila seseorang berada dalam keadaan konflik ada dua hal yang mempengaruhi cara yang ditempuh untuk mengatasinya yaitu 1) memperhatikan tujuan personal dan 2) keinginan untuk tetap mempertahankan hubungan baik dengan anggota kelompok.

Dengan mempertimbangkan kedua aspek ini, dalam penyelesaian konflik dikenal beberapa kemungkinan strategi yang ditempuh  :

  • menghindar dari konflik (avoiding),
  • melunakkan suasana (smoothing),
  • memaksa dengan menggunakan kekuasaan (forcing) dan konfrontasi (confrontation).

Tergantung dan strategi atau pendekatan yang dilakukan kemungkinan hasil dan penyelesaian konflik dapat berupa kalah-kalah (Jose-lose), kalah-menang (lose-win)/menang-kalah (win-lose) dan menang-menang (win-win). Tentu dan kemungkinan-kemungkinan ini yang paling ideal adalah penyelesaian yang dapat menghasilkan kondisi “menang-menang (win-win)”.

Strategi dan hasil yang mungkin dapat diperoleh dalam mengatasi konflik dapat kita lihat sebagai berikut :

Strategi yang dipilih: Kemungkinan hasil yang diperoleh:

– menghindari persoalan (avoiding) – kalah-kalah (lose-lose)

– melunakkan suasana (smoothing) – kalah-menang (lose-win)

– menggunakan kekerasan (forcing) – menang-kalah (win-lose)

-konfrontasi (controntation) – menang-menang (win-win)

Rahasia kesuksesan orang Jepang terletak pada kemampuan mereka beradaptasi secara cepat. Bangsa Jepang tidak memiliki peradaban yang hebat dan sejarah yang bisa dibanggakan seperti Negara – negara lain. Negaranya indah tetapi tidak memiliki hasil alam yang dapat dimanfaatkan. Orangnya kecil dan pendek.Namun, dibalik semua kekurangannya itu, mereka berjiwa besardan memiliki impian yang melebihi kemampuan geografisnnya.

Faktor utama kesuksesan bangsa Jepang terletak pada budaya kerja, sistem etika, pengelolaan yang bagus, kreativitas, dan semangat juang yang tinggi tanpa mengenal arti kekalahan. Dalam sebuah organisasi Jepang, setiap anggota baik tingkat bawah, tengah, maupun atas memiliki peran yang sama.

Dinamika kelompok diartikan sebagai kekuatan-kekuatan yang terdapat di dalam atau dilingkungan kelompok yang akan menentukan perilaku anggota kelompok dan perilaku kelompok yang bersangkutan dalam bertindak melaksankan kegiatan demi tercapainya tujuan bersama yang merupakan tujuan kelompok.

Organisasi Jepang tidak menyukai individu yang banyak tingkah dan mementingkan diri sendiri, mereka beranggapan kesuksesan adalah hasil kerjasama kelompok. Hubungan antar individu tanpa melihat jabatan dan kedudukan membuat hubungan menjadi erat dan saling melengkapi satu sama lain. Tidak ada jurang pemisah antara pengelola dan bawahan,

Dalam organisasi Jepang, pengelola berawal dari posisi bawahan dan naik secara perlahan. Oleh karena itu, terciptalah sebuah suasana yang akrab dan memahami bawahan. Mereka dapat bekerja sama dan menambah kesetiaan para bawahan kepada pengelola. Sistem yang membuat para pekerja merasa selalu dihargai dan menganggap diri mereka penting bagi organisasi. Disini sangat terlihat dinamika kelompok Organisasi Jepang dalam kekompakan kelompok, suasana kelompok, pembinaan dan pemeliharaan kelompok, dan keefektifan kelompok. Tujuan kelompok pun dapat mengerucut pada tujuan bersama yaitu tujuan Organisasi dengan menanggalkan tujuan masing-masing idividu. Namun demikian, struktur kelompok dalam Organisasi Jepang tidak dapat dikatakan bersifat struktural tetapi lebih bersifat kultural dan fungsional. ( thanks, salam )

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

rumput rawa

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kerbau rawa Kalsel

KERBAU RAWA DI KALIMANTAN SELATAN

leh :

Ir. Arief Darmawan

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan

Jln. Panglima Batur Barat No : 4 Banjarbaru Kalimantan Selatan

Telp : 0511-772346 Fax : 0511- 781810 E-mail : bptpkalsel@yahoo.com

Kerbau rawa merupakan salah satu ternak ruminansia yang berkembang di Provinsi Kalimantan Selatan yang patut untuk dijaga kelestarian dan produktivitasnya.  Budidaya ternak kerbau rawa banyak dilakukan di daerah rawa yang relatif terpencil dari daerah lain yang dilakukan secara tradisional dengan cara digembalakan di rawa-rawa secara berkelompok, ternak ini berkembang biak secara alami. Populasi ternak kerbau rawa di Kalimantan Selatan pada tahun 2005 sekitar 38.488 ekor yang tersebar hampir di semua kabupaten, terutama di 6 wilayah Kabupaten yaitu (HSU, HST, HSS, Batola, Banjar dan Tanah Laut) dengan tingkat populasi yang berbeda.  Populasi tertinggi berada di Kabupaten HSU dengan kontribusi produksi daging sebesar 18,08%. Kendala dan permasalahan yang dihadapi dalam usaha beternak kerbau ini antara lain menurunnya produksi dan produktivitas akibat inbreeding yang terus menerus, berkurangnya lokasi padang penggembalaan akibat bergesernya tata guna lahan dari padang penggembalaan menjadi areal pertanian untuk lahan lebaknya dan lahan keringnya menjadi lahan perkebunan karet dan kelapa sawit serta berkurangnya hijauan pakan kerbau akibat serangan hama ulat dan keong mas. Alternatif pemecahan masalah antara lain memasukkan pejantan unggul dan berkualitas dari luar daerah/propinsi, dibuat kesepakatan antara peternak dan petani tentang batas – batas lokasi ternak dan pertanian yang diperkuat dengan Perda, menumbuhkan gerakan gemar menanam hijauan di lokasi-lokasi tanah kosong sekitar sawah maupun kebun.

PENDAHULUAN

Ternak kerbau mempunyai mepunyai peran dan fungsi strategis bagi sebagian masyarakat di Kalimantan Selatan  dan sejak lama ternak ini tersebar secara luas walaupun tidak merata.

Kerbau rawa merupakan salah satu ternak ruminansia yang berkembang di Provinsi Kalimantan Selatan yang patut untuk dijaga kelestarian dan produktivitasnya.  Budidaya ternak kerbau rawa banyak dilakukan di daerah rawa yang relatif terpencil dari daerah lain yang dilakukan secara tradisional dengan cara digembalakan di rawa-rawa secara berkelompok, ternak ini berkembang biak secara alami (SADERI DKK., 2004).

Populasi ternak kerbau rawa di Kalimantan Selatan pada tahun 2004 sekitar 38.488 ekor yang tersebar hampir di semua kabupaten, terutama di 6 wilayah Kabupaten yaitu (HSU, HST, HSS, Batola, Banjar dan Tanah Laut) dengan tingkat populasi yang berbeda.  Populasi tertinggi berada di Kabupaten HSU dengan kontribusi produksi daging sebesar 18,08% menyusul kabupaten lainnya (DINAS PETERNAKAN PROPINSI KALIMANTAN SELATAN, 2005).

Laporan Dinas Peternakan Kalimantan Selatan menyebutkan bahwa dalam  kurun waktu 7 tahun terakhir  (dari tahun 1997 sampai tahun 2003) telah terjadi penurunan populasi, yaitu dari 41.727 ekor menjadi 37.550 ekor.  Penurunan populasi antara lain diduga  ada kaitannya dengan pengelolaan ternak kerbau yang masih dilakukan secara tradisional sehingga tingkat produktivitasnya rendahnya.  Penyebab lainnya adalah pemotongan yang tinggi, mortalitas anak yang tinggi, daya dukung lahan (pakan) yang terbatas akibat berubahnya fungsi lahan dari padang penggembalaan menjadi lahan pertanian atau perkebunan  dan kualitas pakan rendah serta faktor penyakit. Terbatasnya informasi dan data mengenai sumberdaya kerbau rawa di Kalimantan Selatan juga turut memicu terjadinya penurunan populasi.   Menurut BATOSAMMA (2004) ; HARDJOSUBROTO (2004) dan SIREGAR (2004), bahwa pada umumnya kerbau – kerbau di Indonesia lambat mencapai dewasa kelamin dan reproduksinya, serta kawin setelah beranak memerlukan waktu yang lama.

DINAMIKA POPULASI KERBAU

Berdasarkan laporan hasil survei (ROHAENI, et al, 2006) bahwa populasi kerbau rawa dibeberapa kabupaten (HSS, Tala dan Tapin ) mengalami penurunan (dalam waktu 5 tahun, 2000-2005) sebesar 8,58% per tahun, namun untuk kabupaten lain meningkat populasinya walau relatif kecil.  Penurunan populasi kerbau di Tapin karena beberapa hal yaitu antara lain berubahnya fungsi lahan dari padang penggembalaan menjadi lahan perkebunan (karet), sehinga peternak kesulitan untuk menggembalakan ternaknya dan akhirnya terpaksa mereka jual habis atau dikurangi skala pemeliharaannya, selain itu adanya perubahan pemeliharaan dari ternak kerbau menjadi sapi.  Data lengakap mengenai dinamika populasi kerbau rawa di tampilkan pada Tabel 1 Berikut :

Tabel 1.  Dinamika populasi kerbau rawa di Kalimantan Selatan

No Uraian Tahun 2000 Tahun 2005
Kabupaten Tala Banjar Tapin Tala Banjar Tapin
1. Populasi (ekor) 3.891 1.202 578 4.538 1.426 338
2. Produksi (kg) 42.410 72.280 621 6.845 85.008 15.565
3. Pemotongan (ekor) 218 373 3 37 440 84
Kabupaten HST HSS HSU HST HSS HSU
1. Populasi (ekor) 1.974 3.136 7.846
2. Produksi (kg)
3. Pemotongan (ekor) 324 74 324
Kabupaten Batola Batola
1. Populasi (ekor) 894
2. Produksi (kg)
3. Pemotongan (ekor) 324

Sumber :  DINAS PETERNAKAN, 2006

PERAN SOSIAL EKONOMI TERNAK KERBAU DI KALSEL

Berdasarkan beberapa sifat produktivitas ternak kerbau, ternak ini mempunyai potensi yang cukup baik untuk terus dikembangkan agar kebutuhan konsumen akan daging dapat terpenuhi.  Beberapa potensi dan peranan ternak kerbau di Kalimantan Selatan yaitu :

  • Sebagai penghasil protein hewani (daging): Kesanggupan ternak kerbau sebagai penghasil daging cukup tinggi, yaitu dengan karkas 50,26% (ROHAENI et al., 2005), dimana seekor kerbau dewasa mempunyai bobot badan  500 – 600 kg, memberikan kontribusi produksi daging 13.9% dari daging sapi.  Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kerbau rawa sangat potensial sebagai penghasil daging, karena selain bobot badannya yang cukup besar juga memiliki daya cerna serat kasar yang cukup tinggi (TOELIHERE (1979) dalam SIREGAR (2004).
    • Memiliki fungsi sosial yang tinggi :  Kondisi alam yang berawa-rawa merupakan salah satu potensi untuk pengembangan usaha ternak kerbau sebagai agrowisata yang unik dan menarik. Usaha ini sudah dimulai oleh Pemerintah Kabupaten HSU berupa kegiatan pacuan kerbau, terutama dalam rangka memperingati hari kemerndekaan RI. Namun kegiatan ini mengalami hambatan terutama disebabkan minimnya dana pembinaan baik sarana dan prasarana sehingga tidak  dapat dilaksanakan setiap tahun. Selain itu karena mungkin kurang promosi dan jaraknya jauh terpensil sehingga penontonnya atau wisatawan dari luar daerah masih sedikit.
  • Sebagai tenaga kerja (Kecamatan Jorong, Tanah Laut dan Kecamatan Aranio, Banjar):  Seeokor kerbau dewasa dengan bobot badan  rata-rata 450 kg dengan kuku yang lebar dan besar mampu menarik beban di tanah yang berlumpur
  • Sebagai penghasil pupuk (walaupun sampai saat ini di Kalimantan Selatan hal ini belum  dimanfaatkan):

MASALAH DAN ALTERNATIF PEMECAHAN

RANGKA PENGEMBANGSAN KERBAU RAWA

Beberapa permasalahan umum yang dihadapi dalam pengembangan kerbau rawa ini antara lain :

1)            Produktivitas rendah yaitu terkait dengan bibit unggul terbatas, kualitas pakan rendah, inbreeding, lambat dewasa kelamin, laju konsepsi rendah, daya tahan terhadap panas rendah, parasit dan penyakit.  Terjadinya inbreeding pada kelompok populasi yang terbatas akan menyebabkan degradasi mutu genetik ternak kerbau yang mengakibatkan terjadinya penurunan kemampuan produksi, peningkatan kemandulan  dan mortalitas.

2)            Sistem usaha tradisional yang ditandai dengan penguasaan lahan kurang ekonoms, modal terbatas, pengetahuan peternak terbatas, penyuluhan lemah, masalah pemasaran.

3)            Semakin berkurangnya areal padang penggembalaan akibat bertambahnya jumlah penduduk, bergesernya fungsi menjadi lahan usaha pertanian dan perkebunan.

4)            Ketersediaan hijauan sangat tergantung musim dan adanya serangan hama    (ulat dan keong mas) yang memakan hijauan.

5)            Keterbatasan sarana prasarana.

6)            Adanya mekanisasi pertanian sehingga menggeser fungsi kerbau sebagai tenaga kerja menjadi penghasil daging

Secara spesifik permasalahan yang dalam pemeliharaan kerbau di Kalimantan selatan di tampilkan pada Tabel 2 berikut :

Tabel 2.  Permasalahan Spesifik lokasi Pemeliharaan Kerbau Rawa di Kalsel

Kabupaten Kecamatan Permasalahan
Tanah Laut Jorong
  • Kesulitan pakan pada musim kemarau.
  • Ketersediaan air untuk minum dan berkurang kurang.
Pelaihari
  • Pada musim kemarau kesulitan untuk mendapatkan HMT.
  • Pada awal musim kemarau HMT diserang ulat hingga kering dan mati.
Bati-bati
  • Semakin berkurangnya lahan padang penggembalaan.
  • Pada musim kemarau banyak ulat yang memakan HMT.
  • Kebakaran yang terjadi di lahan padang penggembalaan pada musim kemarau.
Banjar Simpang Empat
  • Hampir dapat dikatakan tidak ada masalah, kadang-kadang ada penyakit berupa sakit perut dan pusing.
Aranio
  • Kebakaran yang terjadi pada lahan padang penggembalaan terutama pada musim kemarau shg kesulitan mendapatkan HMT
Tapin Bungur
  • Lokasi padang penggembalaan yang semakin berkurang dengan adanya perluasan areal tanam karet.
  • Pada musim kemarau HMT berkurang shg harus mencari ke tempat yang jauh.
Lokpaikat
  • Keterbatasan modal.
HST Labuan Amas Utara
  • Pada musim hujan (air dalam) kesulitan mendapatkan HMT karena terendam air.
  • Pada musim kemarau panjang kesulitan HMT.
  • Keong mas yang menyerang dan menghabisi HMT.
HSS Daha Utara
  • Pada musim hujan (air dalam) kesulitan mendapatkan HMT karena terendam air.
  • Pada musim kemarau panjang kesulitan HMT.
  • Keong mas yang menyerang dan menghabisi HMT.
HSU Danau Panggang
  • Pada musim hujan (air dalam) kesulitan mendapatkan HMT karena terendam air.
  • Pada musim kemarau panjang kesulitan HMT.
  • Keong mas yang menyerang dan menghabisi HMT.
Batola Kuripan
  • Hampir dapat dikatakan tidak ada masalah, kadang-kadang ada penyakit berupa sakit perut dan pusing.

Sumber : ROHAENI, et al, 2006

Alternatif Pemecahan :

1)            Untuk memperbaiki tingkat produksi  maka perlu dilkukan perkawinan silang antara kelompok di lokasi pembeliharaan, mendatangkan pejantan unggul dari luar propinsi yang mempunyai  kreteria umur 4 – 5 th, keturunan bibit unggul, bebas penyakit dan performen yang baik.

2)            Perlu adanya pergiliran/rotasi padang penggembalaan untuk memberi kesempatan hijuan berkembang, selain itu bentuk gerakan untuk menanam hijauan pakan ternak, pemberian pakan alternatif yang berasal dari limbah pertanian dan perbaikan manjemen pemeliharaan dari semi intensif ke sistem intensif.

3)            Perlu dibentuk suatu forum bersama tentang penggunaan lahan dan pengaturan batas –batas wilayah antara padang penggembalaan dengan areal pertanian yang diperkuat dengan Peraturan Daerah (Perda).

4)            Dilakukan pemberantasan ulat dan keong mas .

Menurut DITJENNAK (2006), beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan potensi dan peranan ternak kerbau serta operasionalisasi pengembangan usaha ternak kerbau antara lain yaitu :

  • Pola Pembinaan Kelompok

Pembentukan dan pengembangan kelompok, dimanan kelompok sebagai sarana pembelajaran, sebagai unit produksi, wadah kerjasama dan unit usaha

  • Pola Kawasan

Kawasan khusus pengembangan ternak kerbau, mempermudah pelayanan dan pemasaran, sebagai sentra pengembangan agribisnis, pembinaan dan pengembangan kelembagaan lebih mudah

  • Pola Bergulir

Dengan model Bantuan Langsung Masyarakat pada saatnya harus digulirkan kepada anggota/kelompok lain

  • Pola Kemitraan

Dengan swasta murni, atau swasta bertindak sebagai penjamin kredit

Berdasarkan operasionalisasi pengembangan usaha ternak kerbau di atas, untuk daerah Kalimantan Selatan pola pembinaan kelompok telah dilakukan hampir di tiap kabupaten walaupun fungsinya masih belum optimal.  Pola kawasan sudah terbentuk secara alamiah, karena pemeliharaan ternak kerbau memang tersentra di suatu kawasan, namun untuk lebih optimal perlu dukungan pemerintah daerah terutama dalam hal pembinaan dan pengembangan kelembagaan.  Pola dana bergulir yang telah diterapkan di Kabupaten HST, yaitu peternak mendapat pinjaman modal untuk diusahakan dalam beternak kerbau dalam jangka tertentu dengan bunga yang telah disepakati sudah berjalan cukup baik dan berhasil, sedangkan pola kemitraan dengan swasta di Kalimantan Selatan untuk ternak kerbau belum dilakukan.

Berdasarkan konsultasi dan koordinasi yang telah dilakukan dengan Pemerintah Daerah dan Instansi terkait, diketahui bahwa ternak kerbau memang belum mendapat prioritas dalam pengembangan dan penanganannya, sehingga perkembangan ternak kerbau di masyarakat dapat dikatakan kurang mendapat dukungan dari pemerintah daerah.  Program yang dilakukan berkenaan dengan pelestarian dan peningkatan produksi ternak kerbau ditampilkan pada Tabel 3.

Tabel 3.  Program yang telah dilakukan berkenaan dengan pelestarian dan  peningkatan produksi ternak kerbau di Kalimantan Selatan

Kabupaten Program
Tanah Laut Program khusus untuk ternak kerbau di kabupaten ini belum ada karena ternak kerbu tidak mendapat prioritas dalam penanganan dan perkembangannya
Banjar Program yang terkait dengan ternak kerbau di kabupaten ini tidak rutin dilakukan setiap tahun, hal ini disebabkan karena pemeliharaan kerbau yang masih tradisional sehingga sulit untuk ditangani, namun ada beberapa program yang pernah dilakukan, yaitu :

  • Kerbau Banpres tahun 1994/1995 (panggalaman dan Simpang Empat).
  • Vaksinasi SE (tidak rutin).
Tapin
  • Tahun 1986 ada bantuan dana dari BRI (proyek RCP) berupa bantuan kerbau sebanyak 3 ekor/KK (2 betina dan 1 jantan).
  • Tahun 1986, program Banpres berupa pinjaman ternak kerbau.
  • Vaksinasi SE.
HSU
  • Pengadaan pompa air terutama untuk pengadaan air minum yang sulit diperoleh pada musim kemarau di daerah pengembangan kerbau.
  • Penanaman HMT dan pengaturan tatacara padang penggembalaan.
  • Vaksinasi Clostidium ± 1.000 ekor.
HST
  • Aplikasi IB pada kerbau.
  • Penggemukan kerbau jantan (pinjaman modal).
  • Kesehatan ternak (vaksinasi).
  • Penambahan pejantan dan betina unggul.
  • Pengadaan peralatan laboratorium, vagina buatan, perbaikan kubangan, kandang jepit,dan kalang permanen.
HSS
  • Membuat tempat galangan/surjan di tengah padang gembalaan  untuk istirahat kerbau pada saat air dalam.
  • Vaksinasi SE untuk kesehatan ternak.
Batola
  • Pemasukan kerbau jantan dari luar daerah untuk perbaikan kualitas ternak
  • Pembinaan dan penyuluhan kepada peternak.

Tabel 4.  Sinkronisasi program pengembangan ternak kerbau antara pemerintah pusat  dan daerah

Pusat Daerah

Peningkatan angka kelahiran

  • Pengendalian pemotongan betina produktif.
  • Intensfikasi kawin alam melalui perbaikan komposisi jantan betina.
Penurunan angka kematian
  • Pengendalian wabah penyakit hewan menular.
  • Penurunan angka kematian.
Penetapan wilayah pengembangan
  • Pengukuhan padang penggembalaan.
  • Rehabilitasi sumber daya air.

KESIMPULAN

  • Kerbau rawa mempunyai potensi yang cukup besar dalam  memberikan kontribusinya  sebagai penghasil daging  di Kalimantan Selatan walaupun  dalam kurun waktu lima tahun ( 2000 – 2004) di beberapa daerah  lokasi berkembangnya kerbau rawa populasinya menurun.
  • Permasalahan yang terjadi dalam pengembangan kerbau rawa ini rendahnya produksi dan produtivitas akibat inbreeding yang berlangsung terus menerus, kekurangan hijuan pada musim kemarau akibat adanya hama ulat dan keong mas yang memakan hijauan serta  lokasi padang penggembalaan banyak yang  berubah fungsi menjadi lahan pertanian dan perkebunan.
  • Alternatif pemecahan masalah, memasukkan pejantan unggul dari luar daerah/propinsi, gerakan penanaman hijuan makanan ternak dan ada kesepakatan penggunaan lahan yang di atur dalam Perda.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

sapi kembar, banyak terjadi di Kalsel

SAPI KEMBAR

( Kasus di Kalsel)

  • Kasus kelahiran sapi kembar pada sapi merupakan fenomena unik yang terjadi dalam dunia peternakan yang akhir-akhirnya menjadi perbincangan serius dikalangan para ahli genetik dan penentu kebijakan, khususnya departemen pertanian melalui Badan Litbang Pertanian Indonesia. Bahkan telah dicanangkan program kelahiran kembar atau sering disebut Twinning ini untuk mendukung tercapainya program Peningkatan Percepatan Swasembada Daging sapi ( P2SDS ).
  • Peristiwa kelahiran kembar ini juga sudah diamati oleh kalangan akademis dan saintis lebih dari lima dekade yang lalu. Dilaporkan bahwa percentase kelahiran kembar pada sapi Broun Swiss sebesar 2,2 % sedangkan pada sapi potong sebesar 0,44 %. Di Kalimantan Selatan , khususnya di Kabup[aten Hulu Sungai Tengah ,kasus kelahiran kembar juga sudah terjadi sejak lama, hanya tidak terdata secara rapi. Namun setidaknya masih ada catatan yang dilakukan oleeh para Inseminator sejak tahun 1993 hingga tahun 2008. Ada sekitar 40 kasus kelahiran kembar dari program Inseminasi Buatan. Dikalangan masyarakat peternakan khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, kelahiran kembar tersebut kemungkinan adanya pengaruh genetika, cara budidaya yang baik dan penjaminan pakan sepanjang tahun. Namun demikian prakiraan yang cukup mendekati adalah akibat sering nya mengkonsumsi rerumputan sawah yang sering disebut dengan rumput burak-burak. Konon rumput tersebut sangat kaya dengan gizinya, sehingga dapat menciptakan anak kembar dan secara kebetulan persentase kelahiran kembar berada pada wilayah dimana populasi rumput berak-berak cukup melimpah dialam bebas. Tapi inipun juga masih berupa teka teki……..sehinggaperlu diteliti lebih lanjut’’
  • Kelahiran kembar secara umum diyakini merupakan peristiwa yang dipengaruhi sifat genetik kembar yang pemunculannya sangat tergantung pada lingkungan , salah satunya adalah faktor pakan yang bermutu. Dengan demikian peristiwa kelahiran kembar yang terjadi disebabkan karena adanya proses SUPERFETASI, SUPEROVULASI DAN PEMBELAHAN ZIGOT.
  • Kembar karena superfetasi secara ilmiah tidak dapat dikatakan sebagai peristiwa kembar, karena sapi yang sudah bunting, kemudian pada hari ke 7-14 hari kebuntingannya justru menunjukkan tanda-tanda birahi, sehingga perlu dikawinkan lagi dan seandainya bunting kembali pasti kedua anaknya tidak sama umurnya.
  • Sedangkan kembar karena superovulasi karena terdapat dua atau lebih sel telur yang matang dan dapat dibuahi dalam satu siklus birahi. Kelahiran kembar dari peristiwa superovulasi disebut juga kembar fraternal. Peristiwa kembar baik superfetasi dan superovulasi , pembuahan sel telur terjadi oleh spermatozoa yang bereda, sehingga jenis kelamin pedet yang lahir dapat berupa jantan semua ( XY), keduanya betina ( XX) dan satu jantan (XY) dan satunya lagi betina ( XX). Namun biasanya yang betina akan menjadi mandul ( majir) ketika dewasa. Peristiwa ini disebut dengan premartin yang disebabkan terjadinya pencampuran hormon kelamin janytan dan betina pada awal pertumbuhan embrio yang mengganngu pertumbuhan organ kelamin dari embrio betina. Sedangkan kembar zigot ( monozygotik) kembar yang berasal dari satu telur dan setelah dibuahi membelah menjadi dua , sehingga sering disebut dengan kembar identik, yang artinya kedua individu mempunyai sifat  genetik yang hampir sama dan penampilan fenotipnya nyaris sama hampir tak ada perbedaan.
  • Kirpatrick dari “ Winconsin Agricultura College and Life Sciences “ mengatakan bahwa sifat genetik kelahiran kembar dari superovulasi terdapat pada kromosom 5,7 dan 19. Jika gen superovulasi terdapat pada kromoson 19 dimiliki oleh induk betina, maka tyerdapat peluang 10 % dari induk tersebut untuk melahirkan kembar dan jika pada kromoson 5 dan 7 juga terdapat gen bersifat superovulasi, maka peluang untuk melahirkan kembar meningkat 13 %.
  • Seleksi sifat kelahiran kembar, perbaikan managemen pakan dan sistem tatalaksana yang baik sangat berpeluang untuk menghasilkan anak sapi kembar. Dengan diketahuinya gen sifat kembar yang berada pada kromosom 5,7 dan 19, para ahli genetika telah mengembangkan alat DNA test untuk mendeteksi apakah betina yang pernah beranak kembar mempunyai sifat gen kembar atau tidak dan mendeteksi anak yang dilahirkan membawa gen kembar atau tidak. Tentunya penggunaan alat DNA test ini sangat memudahkan pengembangan program twinning cattle.
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

PERBAIKAN PRODUKTIVITAS SAPI BALI MELALUI SUPEROVULASI UNTUK MEMACU KELAHIRAN KEMBAR

 

Permintaan daging sapi di Indonesia cenderung terus meningkat, sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.  Di Provinsi  Jambi peningkatan permintaan kebutuhan akan produk  daging sapi meningkat 26,46% dari tahun 1997 sampai tahun 2001.  Keadaan tersebut  memberi indikasi bahwa pasar daging sangat besar.  Menurut Bhari, S.dkk (2000), sebagian besar konsumen daging sapi adalah masyarakat golongan ekonomi menengah ke atas dan elastisitas pendapatan terhadap permintaan daging sapi relatif sangat tinggi.   Subtitusi produk ini cukup banyak, antara lain daging ayam dan ikan, oleh karena itu harga daging yang tinggi  tidak akan menyebabkan gejolak sosial, justru akan merangsang  berkembangnya industri dalam negeri.  Peluang yang sangat baik ini jika tidak dimanfaatkan oleh produsen  dalam negeri, maka akan mendorong impor yang akhirnya akan menguras devisa.   Hal ini dalam jangka panjang akan berdampak pada ketergantungan kita pada produk luar dan secara otomatis akan menghambat peluang untuk menciptakan lapangan kerja  dalam bidang industri sapi potong di pedesaan.

Permasalahan  reproduktivitas sapi lokal termasuk sapi bali memerlukan solusi dimana selama ini selalu terjadi penurunan populasi termasuk di Provinsi Jambi populasi sapi terus mengalami penurunan sebesar 2,68% per tahun dari tahun 1997 sampai 2001 (statistik peternakan Provinsi Jambi, 2001).  Hal ini selain disebabkan

 Oleh laju pemotongan ternak sapi yang melebihi laju pertumbuhan populasi, penurunan ini juga disebabkan karena rendahnya kemampuan reproduktivitas induk yang meliputi kematian embrional, kematian sebelum lahir, dan kematian sebelum disapih.  Oleh karena itu penanganan induk juga perlu diantisipasi baik dengan perbaikan kualitas pakan selama bunting dan melalui penambahan konsentrat maupun usaha untuk meningkatkan jumlah anak perkelahiran yaitu dengan perlakuan superovulasi,  yaitu  suatu teknik untuk memproduksi banyak oocyt  dengan mempercepat pamatangannya menjadi ova serta dapat diovulasikan sekaligus dalam jumlah korpus luteum.  Peningkatan ini dapat memperbaiki  pertumbuhan prenatal selama kebuntingan, meningkatkan konsentrasi hormon estrogen dan progesteron dan meningkatkan aktivitas enzim sintatese laktosa serta produksi susu (Manalu dkk, 1996, Manalu, 1999, Frimawaty dan Menalu, 1999).

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar