Integrasi tanaman jagung dan ternak sapi potong di lahan kering Kalimantan Selatan

A. Kesesuaian inovasi/Karakterisasi Lokasi

Luas lahan kering di Kalsel tercatat 1.400.370 Ha dan sekitar 471.139 Ha (33,64%) berada di Kabupaten Tanah Laut dan yang telah dimanfaatkan untuk tanaman pangan sekitar 70.394 ha atau 14,94 % (BPS Kalimantan Selatan, 1995). Luasnya lahan ini merupakan potensi yang belum optimal untuk diusahakan. ). sebagian besar didominasi oleh jenis tanah podsolik merah kuning yang tergolong marginal. Pola integrasi ternak dengan tanaman pangan maupun perkebunan mampu menjamin keberlanjutan produktivitas lahan melalui kelestarian sumberdaya alam yang ada. Pola ini dikenal sebagai crop livestock system (CLS) dan dewasa ini sudah banyak dikembangkan di berbagai Negara Asia.. Menurut Hardianto et al. (2001), teknologi usahatani terpadu (integrated farming system) merupakan alternative yang tepat sejalan dengan konsep pertanian berkelanjutan. Teknologi ini mengutamakan hubungan saling menguntungkan dan membutuhkan (komplementer) antara sub sitem usahatani.

GAMBARAN WILAYAH PENGADOPSI TEKNOLOGI

Pertanian Umum, AEZ dan FSZ, Produktivitas Pertanian, Dukungan Sumber daya wilayah, Kebutuhan Teknologi Inovasi, Kepemilikan lahan, Usaha Tani, sarana dan prasarana.

Desa Sumber Mulia, Kecamatan Pelaihari Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan merupakan wilayah pemekaran Desa Tampang yang posisinya strategis penghubung antar desa. Luas Desa Sumber Mulia adalah 10,5 Km persegi, yang terdiri dari perumahan, perkebunan, persawahan, tegalan, hutan dan padang alang-alang. Jarak desa Sumber Mulia ke Kecamatan Pelaihari : 12 Km, ke Kabupaten 12 Km dan ke propinsi (Banjarmasin) 80 Km. Curah Hujan rata-rata per bulan pada bulan basah 100 mm., dengan rataan temperatur 31 º Celsius. Bulan basah antara bulan November – April, dan bulan kering bulan Mei – Oktober. Tipe lahan jenis tanah merah, yang mempunyai kelerengan antara 3 – 8 % dengan tingkat kesuburan yang rendah dan tingkat erosi yang tinggi. Memiliki areal tanah yang berbukit-bukit atau bergelombang.Sarana dan Prasarana fisik berupa : Jalan aspal 1,5 Km, Pengerasan jalan baru 1,5 Km, Pos Kamling, pintu gerbang desa, plank papan atau etiket nama desa/ dusun/RT, Balai Desa, Mesjid, Mushola, Gereja, SD dan TK
Penggunaan lahan pertanian tanaman pangan terdiri dari : padi sawah (101 Ha), jagung (200 Ha), singkong (10 Ha), semangka (10 Ha), palawija (10 Ha). Populasi ternak : sapi (651 ekor), kambing (14 ekor), ayam (2000 ekor) dan itik (250 ekor). Untuk pengembangan perikanan, Desa Sumber Mulia memiliki bendungan sebanyak 24 buah, Mina Padi (15 Ha), Kolam ikan (39 Buah), Kolam pengembangan (3,5 Ha), sungai (3.650 meter) dan rawa 6,5 Ha. Luas lahan perkebunan yang dimiliki adalah karet (66 Ha), cengkeh (23,7 Ha), kopi (2,25 Ha), kelapa (4 Ha), dan buah-buahan (150 Ha).
Penduduk Desa Sumber Mulia sebanyak 1.155 jiwa, terdiri dari laki-laki 575 jiwa dan perempuan 580 jiwa, seluruhnya ada 309 KK. Tingkat kepadatan penduduk 10 Jiwa/Ha dengan tingkat pertumbuhan 1 % per tahun. Penduduk Desa Sumber Mulia beragam yang terdiri dari suku dan agama, yakni : Islam 1.065 Jiwa, Protestan 55 Jiwa, Kristen katolik 14 Jiwa, Hindu 21 Jiwa. Sedangkan menurut suku terdiri dari : suku Jawa (837 Jiwa), Banjar (285 ), Bali (21 ), Dayak (3), Lombok (5 ), Madura (3 ) dan Sunda (1 ). Mayoritas penduduk desa berusaha sebagai petani dan sebagian sebagai pedagang, Tingkat pendidikan yang dimiliki adalah Tamat Sarjana (4 orang), kuliah (8 orang), SMA (60 orang), SMP (120 orang) dan SD (200 orang). Pengembangan kesenian lokal berupa gamelan Jawa dan Bali untuk mengadakan acara-acara khusus, termasuk diantaranya kesenian kuda lumping.
Dari sisi peran kelembagaan menunjukkan bahwa usaha tani mayoritas adalah tanaman jagung dan berternak sapi potong, namun masih bersifat sektoral. Sejak bekerja sama dengan BPTP Kalsel, Dinas Peternakan dan Pemda Setempat, pola usaha tersebut telah diarahkan kepada program integrasi antara tanaman pangan (jagung dan padi ) dengan ternak sapi potong. Kegiatan ini mendapat sambutan yang positif dari Bupati Tanah laut (2004), sehingga masyarakat petani jagung yang tergabung dengan kelompok tani “ Rumpun Pemuda Tani “ yang resminya dibentuk pada 15 Desember 2001, merupakan peleburan dari 2 kelompok tani sebelumnya yaitu kelompok Melati dan Suka Maju Perdana. Anggota Kelompok Tani Rumpun Pemuda Tani sebanyak 20 orang yang terdiri dari Kawula Muda berbagai suku dan agama yang ada di desa setempat dan merupakan kelompok pembaharuan desa.

B. Keunggulan/nilai tambah inovasi
PENCIPTAAN , DISEMINASI DAN ADOPSI PAKET TEKNOLOGI
Paket teknologi unggulan, Managemen diseminasi paket teknologi, proses dan perkembangan adopsi paket teknologi, faktor-faktor kesuksesan.

Tahapan teknologi budidaya jagung yaitu :
• Pengolahan tanah, 2 kali traktor, pupuk dasar fine compost dosis 3 ton/ Ha
• Tanam : Jagung (varietas BISI 2) ditanam dengan cara ditugal (kedalaman  5 cm), jarak tanam 70 x 20 cm 1 tanaman per lubang. Benih jagung yang telah dimasukkan ke dalam lubang tanam segera ditutup dengan tanah maupun pupuk kandang,
• Pemupukan : 1/3 urea diberikan saat tanam dan 2/3 urea diberikan saat tanaman berumur 30 hari setelah tanam. Pupuk SP-36 dan KCl seluruhnya diberikan pada saat tanam. diberikan dengan cara ditugal atau dilarik disamping barisan tanaman, kemudian ditutup rapat. Pupuk kandang diberikan seluruhnya pada saat tanam sekaligus sebagai penutup lubang tanaman jagung/pupuk kimia. Dosis pupuk adalah Urea ( 300 Kg/Ha), SP 36 ( 100 Kg/Ha), KCl ( 100 Kg/Ha) dan Pupuk kandang Fine Compost ( 2,5-3 ton/ Ha),
• Pemeliharaan : Pemeliharaan yang dilakukan yaitu penyulaman, penyiangan dan pembumbunan, dan pengendalian hama/penyakit. Penyulaman dilaksanakan antara 5 – 7 hari setelah tanam. Penyulaman tidak boleh dilakukan sampai terlambat, sebab akan menyebabkan pertumbuhan dan waktu masak tidak serempak. Penyiangan dilaksanakan saat tanaman jagung berumur 30 hari setelah tanam. Pembumbunan dilaksanakan setelah tanaman berumur 30 hari, agar tanaman kokoh dan tidak mudah rebah. Pengendalian hama dan penyakit dilaksanakan berdasarkan konsep pengendalian hama terpadu (PHT),
• Panen : Jagung yang siap dipanen adalah jagung yang secara fisiologis telah masak, dengan ciri-ciri antara lain; kelobot berwarna kuning kecoklatan, timbul jaringan hitam pada pangkal biji, biji mengkilap dan bila ditekan dengan kuku tidak membekas.

Tahapan teknologi budidaya sapi yaitu :
• Teknologi budidaya sapi potong yang diintroduksikan yaitu perbaikan manajemen berupa pemeliharaan ternak secara terkurung dengan kandang kolektif, pemberian pakan lengkap sebanyak 3% dari berat badan, pemberian UMB (Urea Multinutrient Block) sebanyak 250 gram/ekor/minggu, pencegahan penyakit dengan cara pemberian obat cacing dan vitamin B compleks. Ternak sapi disediakan air minum sebanyak 40-50 liter/ekor/hari. Pakan lengkap yang diberikan pada ternak, terlebih dahulu diadaptasikan selama 3 minggu yaitu pada minggu pertama diberikan 1 kg/ekor/hari, minggu kedua 2 kg/ekor/hari dan minggu ketiga 3 kg/ekor/hari. Pada minggu keempat pakan lengkap diberikan sekitar 3% dari berat badan sapi.
• Kotoran sapi yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai pupuk dasar untuk tanaman jagung. Kotoran sapi ini difermentasi dengan menggunakan probiotik (Stardec) selama minimal 3 minggu sehingga dihasilkan fine compost. Bahan yang diperlukan dalam pembuatan fine compost yaitu : kotoran sapi 1.000 kg, Stardec 2,5 kg, urea 2,5 kg, SP-36 2,5 kg, serbuk gergaji 100 kg, abu gosok 100 kg, Kalsit/dolomite 2 kg dan air. Cara pembuatan : bahan seperti stardec, urea, SP-36 dan kalsit dicampur merata (bahan A), kotoran sapi dicampur dengan serbuk gergaji dan abu gosok secara merata (B), bahan A dan B dicampur merata dan ditambahkan air sehingga diperoleh kadar air kira-kira 60%, inkubasi selama 3 minggu, setiap minggu lakukan pembalikan, kotoran sapi yang difermentasi dilakukan di bawah naungan, atau ditutup dengan terpal/daun pisang/daun kelapa/ ditutup terpal agar tidak kena panas dan hujan langsung.
• Pendampingan dalam penetrapan teknologi dilakukan oleh peneliti dan penyuluh BPTP Kalsel, Penyuluh Lapangan dan BPP, Jajaran Dinas Pertanian Kabpaten Tala, yang diikuti secara partisipatif aktif oleh seluruh anggota kelompok serta masyarakat Desa Sumber Mulia beserta jajarannya. Adapun pendapingan teknologi yang diberikan adalah : (a) Pelatihan petani, petugas lapang, (b) Sosialisasi program yang diikuti baik dalam maupun luar desa dan (c) Pembinaan Kelembagaan. Pendampingan tersebut dimaksudkan untuk mempercepat adopsi teknologi yang ingin diintroduksikan, menyamakan persepsi seluruh pihak yang terkait, pemberdayaan kelompok atau kelembagaan untuk memberi arah kepada usaha komersial dan (d) Petani memahami dan mampu menjadi fasilitator dalam penyebarluasan teknologi yang diintroduksika

ADOPSI DAN DAMPAK PAKET TEKNOLOGI

Peningkatan budidaya tanaman dan peternakan, peningkatan produktivitas dan pendapatan usahatani serta peluang kerja, berkembangnya agribisnis pedesaan, peningkatan kesejahteraan petani, berfungsinya kelembagaan pertanian pedesaan.

usahatani jagung diperoleh hasil bahwa pendapatan dari jagung yang dipupuk dengan kotoran sapi lebih tinggi sekitar Rp 168.000 atau 5,44% dari jagung yang dipupuk kotoran ayam. Nilai R/C yang dihasilkan lebih tinggi pada jagung yang dipupuk dengan kotoran sapi (1,88) hal ini disebabkan karena adanya penekanan pembelian pupuk dari kotoran ayam menjadi kotoran sapi (7,55%). Beberapa asumsi yang digunakan yaitu harga jagung yang berlaku Rp. 1.100/kg, harga kotoran ayam Rp 7.000/zak (sampai ditempat), kotoran sapi Rp 3.500/zak.

Tabel 2. Keragaan ternak sapi bakalan yang diamati selama 90 hari

No Uraian Perlakuan Kontrol
1 Bobot badan awal (kg) 152 151
2 Bobot badan akhir (kg) 197 163,6
3 PBBH (kg/ekor/hari) 0,500 0,140
4 Konsumsi CF (kg) 3,52 –
5 Konsumsi rumput dalam BK (kg) 1 5
5 Konversi pakan (kg) 9,04 35,71

6 Jumlah ternak (ekor) 20 20
Keterangan : ? : data tidak diamati, karena pemeliharaan dilepas

Tabel 14. Analisis biaya dan pendapatan dari sistem integrasi dan non integrasi di lahan kering dengan luas tanam jagung 3 ha dan 20 ekor ternak sapi per musim

Uraian : Integrasi Kontrol
Input : Rp Rp
Jagung 11.125.800 11.992.800
Sapi 50.252.200 49.955.800
Jumlah 61.378.000 61.948.600

Output :
Jagung 20.889.000 23.520.000
Sapi 60.000.000 49.380.000
Jumlah 80.889.000 72.900.000
Pendapatan 19.511.000 10.951.400
R/C 1,32 1,18

Dampak Kelembagaan
Usaha yang telah dilakukan oleh kelompok Rumpun Pemuda Tani yaitu : Menyewakan hand tractor dengan upah Rp 15.000/borong, Memasarkan bibit jagung, Memasarkan benih padi dan Simpan pinjam. Khusus tentang jasa simpan pinjam telah berlaku ketentuan sebagai berikut (a) Simpanan wajib Rp. 1000/bulan, Simpanan Pokok Rp 25.000, bunga pinjaman 2,5 % /bulan dan simpanan 5 kaleng padi per panen sebagai upaya pemupukan modal. Sejak Tahun 2004 telah dikeluarkan jasa simpan pinjam sebanyak Rp 400.000 kepada anggota.. Kelompok tani ini telah melakukan kerjasama dari berbagai pihak yaitu : (a) Distributor bibit jagung : untuk memasarkan bibit jagung dengan harga pasaran,(b) Swasta/pengusaha : mendapatkan pinjaman dana untuk biaya tanam jagung berupa saprodi dan dibayar saat panen dengan bunga 2,5%, (c) Dinas Pertanian : Kredit hand tractor 1 unit seharga Rp 19.000.000, (d) Kelompok tani dari Kurau : untuk bekerjasama menyusun pakan ikan , (e) SNAKMA : untuk kerjasama penyusunan pakan ternak , (f) Dinas Pertanian dan PT. Pertani : meminjamkan saprodi untuk penanaman jagung seluas 30 Ha pada bulan Februari 2005 atau nilai uangnya sekitar Rp. 63.000.000

Iklan

Tentang nawawrad

lion grazy
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s