Kerbau rawa Kalsel

KERBAU RAWA DI KALIMANTAN SELATAN

leh :

Ir. Arief Darmawan

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan

Jln. Panglima Batur Barat No : 4 Banjarbaru Kalimantan Selatan

Telp : 0511-772346 Fax : 0511- 781810 E-mail : bptpkalsel@yahoo.com

Kerbau rawa merupakan salah satu ternak ruminansia yang berkembang di Provinsi Kalimantan Selatan yang patut untuk dijaga kelestarian dan produktivitasnya.  Budidaya ternak kerbau rawa banyak dilakukan di daerah rawa yang relatif terpencil dari daerah lain yang dilakukan secara tradisional dengan cara digembalakan di rawa-rawa secara berkelompok, ternak ini berkembang biak secara alami. Populasi ternak kerbau rawa di Kalimantan Selatan pada tahun 2005 sekitar 38.488 ekor yang tersebar hampir di semua kabupaten, terutama di 6 wilayah Kabupaten yaitu (HSU, HST, HSS, Batola, Banjar dan Tanah Laut) dengan tingkat populasi yang berbeda.  Populasi tertinggi berada di Kabupaten HSU dengan kontribusi produksi daging sebesar 18,08%. Kendala dan permasalahan yang dihadapi dalam usaha beternak kerbau ini antara lain menurunnya produksi dan produktivitas akibat inbreeding yang terus menerus, berkurangnya lokasi padang penggembalaan akibat bergesernya tata guna lahan dari padang penggembalaan menjadi areal pertanian untuk lahan lebaknya dan lahan keringnya menjadi lahan perkebunan karet dan kelapa sawit serta berkurangnya hijauan pakan kerbau akibat serangan hama ulat dan keong mas. Alternatif pemecahan masalah antara lain memasukkan pejantan unggul dan berkualitas dari luar daerah/propinsi, dibuat kesepakatan antara peternak dan petani tentang batas – batas lokasi ternak dan pertanian yang diperkuat dengan Perda, menumbuhkan gerakan gemar menanam hijauan di lokasi-lokasi tanah kosong sekitar sawah maupun kebun.

PENDAHULUAN

Ternak kerbau mempunyai mepunyai peran dan fungsi strategis bagi sebagian masyarakat di Kalimantan Selatan  dan sejak lama ternak ini tersebar secara luas walaupun tidak merata.

Kerbau rawa merupakan salah satu ternak ruminansia yang berkembang di Provinsi Kalimantan Selatan yang patut untuk dijaga kelestarian dan produktivitasnya.  Budidaya ternak kerbau rawa banyak dilakukan di daerah rawa yang relatif terpencil dari daerah lain yang dilakukan secara tradisional dengan cara digembalakan di rawa-rawa secara berkelompok, ternak ini berkembang biak secara alami (SADERI DKK., 2004).

Populasi ternak kerbau rawa di Kalimantan Selatan pada tahun 2004 sekitar 38.488 ekor yang tersebar hampir di semua kabupaten, terutama di 6 wilayah Kabupaten yaitu (HSU, HST, HSS, Batola, Banjar dan Tanah Laut) dengan tingkat populasi yang berbeda.  Populasi tertinggi berada di Kabupaten HSU dengan kontribusi produksi daging sebesar 18,08% menyusul kabupaten lainnya (DINAS PETERNAKAN PROPINSI KALIMANTAN SELATAN, 2005).

Laporan Dinas Peternakan Kalimantan Selatan menyebutkan bahwa dalam  kurun waktu 7 tahun terakhir  (dari tahun 1997 sampai tahun 2003) telah terjadi penurunan populasi, yaitu dari 41.727 ekor menjadi 37.550 ekor.  Penurunan populasi antara lain diduga  ada kaitannya dengan pengelolaan ternak kerbau yang masih dilakukan secara tradisional sehingga tingkat produktivitasnya rendahnya.  Penyebab lainnya adalah pemotongan yang tinggi, mortalitas anak yang tinggi, daya dukung lahan (pakan) yang terbatas akibat berubahnya fungsi lahan dari padang penggembalaan menjadi lahan pertanian atau perkebunan  dan kualitas pakan rendah serta faktor penyakit. Terbatasnya informasi dan data mengenai sumberdaya kerbau rawa di Kalimantan Selatan juga turut memicu terjadinya penurunan populasi.   Menurut BATOSAMMA (2004) ; HARDJOSUBROTO (2004) dan SIREGAR (2004), bahwa pada umumnya kerbau – kerbau di Indonesia lambat mencapai dewasa kelamin dan reproduksinya, serta kawin setelah beranak memerlukan waktu yang lama.

DINAMIKA POPULASI KERBAU

Berdasarkan laporan hasil survei (ROHAENI, et al, 2006) bahwa populasi kerbau rawa dibeberapa kabupaten (HSS, Tala dan Tapin ) mengalami penurunan (dalam waktu 5 tahun, 2000-2005) sebesar 8,58% per tahun, namun untuk kabupaten lain meningkat populasinya walau relatif kecil.  Penurunan populasi kerbau di Tapin karena beberapa hal yaitu antara lain berubahnya fungsi lahan dari padang penggembalaan menjadi lahan perkebunan (karet), sehinga peternak kesulitan untuk menggembalakan ternaknya dan akhirnya terpaksa mereka jual habis atau dikurangi skala pemeliharaannya, selain itu adanya perubahan pemeliharaan dari ternak kerbau menjadi sapi.  Data lengakap mengenai dinamika populasi kerbau rawa di tampilkan pada Tabel 1 Berikut :

Tabel 1.  Dinamika populasi kerbau rawa di Kalimantan Selatan

No Uraian Tahun 2000 Tahun 2005
Kabupaten Tala Banjar Tapin Tala Banjar Tapin
1. Populasi (ekor) 3.891 1.202 578 4.538 1.426 338
2. Produksi (kg) 42.410 72.280 621 6.845 85.008 15.565
3. Pemotongan (ekor) 218 373 3 37 440 84
Kabupaten HST HSS HSU HST HSS HSU
1. Populasi (ekor) 1.974 3.136 7.846
2. Produksi (kg)
3. Pemotongan (ekor) 324 74 324
Kabupaten Batola Batola
1. Populasi (ekor) 894
2. Produksi (kg)
3. Pemotongan (ekor) 324

Sumber :  DINAS PETERNAKAN, 2006

PERAN SOSIAL EKONOMI TERNAK KERBAU DI KALSEL

Berdasarkan beberapa sifat produktivitas ternak kerbau, ternak ini mempunyai potensi yang cukup baik untuk terus dikembangkan agar kebutuhan konsumen akan daging dapat terpenuhi.  Beberapa potensi dan peranan ternak kerbau di Kalimantan Selatan yaitu :

  • Sebagai penghasil protein hewani (daging): Kesanggupan ternak kerbau sebagai penghasil daging cukup tinggi, yaitu dengan karkas 50,26% (ROHAENI et al., 2005), dimana seekor kerbau dewasa mempunyai bobot badan  500 – 600 kg, memberikan kontribusi produksi daging 13.9% dari daging sapi.  Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kerbau rawa sangat potensial sebagai penghasil daging, karena selain bobot badannya yang cukup besar juga memiliki daya cerna serat kasar yang cukup tinggi (TOELIHERE (1979) dalam SIREGAR (2004).
    • Memiliki fungsi sosial yang tinggi :  Kondisi alam yang berawa-rawa merupakan salah satu potensi untuk pengembangan usaha ternak kerbau sebagai agrowisata yang unik dan menarik. Usaha ini sudah dimulai oleh Pemerintah Kabupaten HSU berupa kegiatan pacuan kerbau, terutama dalam rangka memperingati hari kemerndekaan RI. Namun kegiatan ini mengalami hambatan terutama disebabkan minimnya dana pembinaan baik sarana dan prasarana sehingga tidak  dapat dilaksanakan setiap tahun. Selain itu karena mungkin kurang promosi dan jaraknya jauh terpensil sehingga penontonnya atau wisatawan dari luar daerah masih sedikit.
  • Sebagai tenaga kerja (Kecamatan Jorong, Tanah Laut dan Kecamatan Aranio, Banjar):  Seeokor kerbau dewasa dengan bobot badan  rata-rata 450 kg dengan kuku yang lebar dan besar mampu menarik beban di tanah yang berlumpur
  • Sebagai penghasil pupuk (walaupun sampai saat ini di Kalimantan Selatan hal ini belum  dimanfaatkan):

MASALAH DAN ALTERNATIF PEMECAHAN

RANGKA PENGEMBANGSAN KERBAU RAWA

Beberapa permasalahan umum yang dihadapi dalam pengembangan kerbau rawa ini antara lain :

1)            Produktivitas rendah yaitu terkait dengan bibit unggul terbatas, kualitas pakan rendah, inbreeding, lambat dewasa kelamin, laju konsepsi rendah, daya tahan terhadap panas rendah, parasit dan penyakit.  Terjadinya inbreeding pada kelompok populasi yang terbatas akan menyebabkan degradasi mutu genetik ternak kerbau yang mengakibatkan terjadinya penurunan kemampuan produksi, peningkatan kemandulan  dan mortalitas.

2)            Sistem usaha tradisional yang ditandai dengan penguasaan lahan kurang ekonoms, modal terbatas, pengetahuan peternak terbatas, penyuluhan lemah, masalah pemasaran.

3)            Semakin berkurangnya areal padang penggembalaan akibat bertambahnya jumlah penduduk, bergesernya fungsi menjadi lahan usaha pertanian dan perkebunan.

4)            Ketersediaan hijauan sangat tergantung musim dan adanya serangan hama    (ulat dan keong mas) yang memakan hijauan.

5)            Keterbatasan sarana prasarana.

6)            Adanya mekanisasi pertanian sehingga menggeser fungsi kerbau sebagai tenaga kerja menjadi penghasil daging

Secara spesifik permasalahan yang dalam pemeliharaan kerbau di Kalimantan selatan di tampilkan pada Tabel 2 berikut :

Tabel 2.  Permasalahan Spesifik lokasi Pemeliharaan Kerbau Rawa di Kalsel

Kabupaten Kecamatan Permasalahan
Tanah Laut Jorong
  • Kesulitan pakan pada musim kemarau.
  • Ketersediaan air untuk minum dan berkurang kurang.
Pelaihari
  • Pada musim kemarau kesulitan untuk mendapatkan HMT.
  • Pada awal musim kemarau HMT diserang ulat hingga kering dan mati.
Bati-bati
  • Semakin berkurangnya lahan padang penggembalaan.
  • Pada musim kemarau banyak ulat yang memakan HMT.
  • Kebakaran yang terjadi di lahan padang penggembalaan pada musim kemarau.
Banjar Simpang Empat
  • Hampir dapat dikatakan tidak ada masalah, kadang-kadang ada penyakit berupa sakit perut dan pusing.
Aranio
  • Kebakaran yang terjadi pada lahan padang penggembalaan terutama pada musim kemarau shg kesulitan mendapatkan HMT
Tapin Bungur
  • Lokasi padang penggembalaan yang semakin berkurang dengan adanya perluasan areal tanam karet.
  • Pada musim kemarau HMT berkurang shg harus mencari ke tempat yang jauh.
Lokpaikat
  • Keterbatasan modal.
HST Labuan Amas Utara
  • Pada musim hujan (air dalam) kesulitan mendapatkan HMT karena terendam air.
  • Pada musim kemarau panjang kesulitan HMT.
  • Keong mas yang menyerang dan menghabisi HMT.
HSS Daha Utara
  • Pada musim hujan (air dalam) kesulitan mendapatkan HMT karena terendam air.
  • Pada musim kemarau panjang kesulitan HMT.
  • Keong mas yang menyerang dan menghabisi HMT.
HSU Danau Panggang
  • Pada musim hujan (air dalam) kesulitan mendapatkan HMT karena terendam air.
  • Pada musim kemarau panjang kesulitan HMT.
  • Keong mas yang menyerang dan menghabisi HMT.
Batola Kuripan
  • Hampir dapat dikatakan tidak ada masalah, kadang-kadang ada penyakit berupa sakit perut dan pusing.

Sumber : ROHAENI, et al, 2006

Alternatif Pemecahan :

1)            Untuk memperbaiki tingkat produksi  maka perlu dilkukan perkawinan silang antara kelompok di lokasi pembeliharaan, mendatangkan pejantan unggul dari luar propinsi yang mempunyai  kreteria umur 4 – 5 th, keturunan bibit unggul, bebas penyakit dan performen yang baik.

2)            Perlu adanya pergiliran/rotasi padang penggembalaan untuk memberi kesempatan hijuan berkembang, selain itu bentuk gerakan untuk menanam hijauan pakan ternak, pemberian pakan alternatif yang berasal dari limbah pertanian dan perbaikan manjemen pemeliharaan dari semi intensif ke sistem intensif.

3)            Perlu dibentuk suatu forum bersama tentang penggunaan lahan dan pengaturan batas –batas wilayah antara padang penggembalaan dengan areal pertanian yang diperkuat dengan Peraturan Daerah (Perda).

4)            Dilakukan pemberantasan ulat dan keong mas .

Menurut DITJENNAK (2006), beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan potensi dan peranan ternak kerbau serta operasionalisasi pengembangan usaha ternak kerbau antara lain yaitu :

  • Pola Pembinaan Kelompok

Pembentukan dan pengembangan kelompok, dimanan kelompok sebagai sarana pembelajaran, sebagai unit produksi, wadah kerjasama dan unit usaha

  • Pola Kawasan

Kawasan khusus pengembangan ternak kerbau, mempermudah pelayanan dan pemasaran, sebagai sentra pengembangan agribisnis, pembinaan dan pengembangan kelembagaan lebih mudah

  • Pola Bergulir

Dengan model Bantuan Langsung Masyarakat pada saatnya harus digulirkan kepada anggota/kelompok lain

  • Pola Kemitraan

Dengan swasta murni, atau swasta bertindak sebagai penjamin kredit

Berdasarkan operasionalisasi pengembangan usaha ternak kerbau di atas, untuk daerah Kalimantan Selatan pola pembinaan kelompok telah dilakukan hampir di tiap kabupaten walaupun fungsinya masih belum optimal.  Pola kawasan sudah terbentuk secara alamiah, karena pemeliharaan ternak kerbau memang tersentra di suatu kawasan, namun untuk lebih optimal perlu dukungan pemerintah daerah terutama dalam hal pembinaan dan pengembangan kelembagaan.  Pola dana bergulir yang telah diterapkan di Kabupaten HST, yaitu peternak mendapat pinjaman modal untuk diusahakan dalam beternak kerbau dalam jangka tertentu dengan bunga yang telah disepakati sudah berjalan cukup baik dan berhasil, sedangkan pola kemitraan dengan swasta di Kalimantan Selatan untuk ternak kerbau belum dilakukan.

Berdasarkan konsultasi dan koordinasi yang telah dilakukan dengan Pemerintah Daerah dan Instansi terkait, diketahui bahwa ternak kerbau memang belum mendapat prioritas dalam pengembangan dan penanganannya, sehingga perkembangan ternak kerbau di masyarakat dapat dikatakan kurang mendapat dukungan dari pemerintah daerah.  Program yang dilakukan berkenaan dengan pelestarian dan peningkatan produksi ternak kerbau ditampilkan pada Tabel 3.

Tabel 3.  Program yang telah dilakukan berkenaan dengan pelestarian dan  peningkatan produksi ternak kerbau di Kalimantan Selatan

Kabupaten Program
Tanah Laut Program khusus untuk ternak kerbau di kabupaten ini belum ada karena ternak kerbu tidak mendapat prioritas dalam penanganan dan perkembangannya
Banjar Program yang terkait dengan ternak kerbau di kabupaten ini tidak rutin dilakukan setiap tahun, hal ini disebabkan karena pemeliharaan kerbau yang masih tradisional sehingga sulit untuk ditangani, namun ada beberapa program yang pernah dilakukan, yaitu :

  • Kerbau Banpres tahun 1994/1995 (panggalaman dan Simpang Empat).
  • Vaksinasi SE (tidak rutin).
Tapin
  • Tahun 1986 ada bantuan dana dari BRI (proyek RCP) berupa bantuan kerbau sebanyak 3 ekor/KK (2 betina dan 1 jantan).
  • Tahun 1986, program Banpres berupa pinjaman ternak kerbau.
  • Vaksinasi SE.
HSU
  • Pengadaan pompa air terutama untuk pengadaan air minum yang sulit diperoleh pada musim kemarau di daerah pengembangan kerbau.
  • Penanaman HMT dan pengaturan tatacara padang penggembalaan.
  • Vaksinasi Clostidium ± 1.000 ekor.
HST
  • Aplikasi IB pada kerbau.
  • Penggemukan kerbau jantan (pinjaman modal).
  • Kesehatan ternak (vaksinasi).
  • Penambahan pejantan dan betina unggul.
  • Pengadaan peralatan laboratorium, vagina buatan, perbaikan kubangan, kandang jepit,dan kalang permanen.
HSS
  • Membuat tempat galangan/surjan di tengah padang gembalaan  untuk istirahat kerbau pada saat air dalam.
  • Vaksinasi SE untuk kesehatan ternak.
Batola
  • Pemasukan kerbau jantan dari luar daerah untuk perbaikan kualitas ternak
  • Pembinaan dan penyuluhan kepada peternak.

Tabel 4.  Sinkronisasi program pengembangan ternak kerbau antara pemerintah pusat  dan daerah

Pusat Daerah

Peningkatan angka kelahiran

  • Pengendalian pemotongan betina produktif.
  • Intensfikasi kawin alam melalui perbaikan komposisi jantan betina.
Penurunan angka kematian
  • Pengendalian wabah penyakit hewan menular.
  • Penurunan angka kematian.
Penetapan wilayah pengembangan
  • Pengukuhan padang penggembalaan.
  • Rehabilitasi sumber daya air.

KESIMPULAN

  • Kerbau rawa mempunyai potensi yang cukup besar dalam  memberikan kontribusinya  sebagai penghasil daging  di Kalimantan Selatan walaupun  dalam kurun waktu lima tahun ( 2000 – 2004) di beberapa daerah  lokasi berkembangnya kerbau rawa populasinya menurun.
  • Permasalahan yang terjadi dalam pengembangan kerbau rawa ini rendahnya produksi dan produtivitas akibat inbreeding yang berlangsung terus menerus, kekurangan hijuan pada musim kemarau akibat adanya hama ulat dan keong mas yang memakan hijauan serta  lokasi padang penggembalaan banyak yang  berubah fungsi menjadi lahan pertanian dan perkebunan.
  • Alternatif pemecahan masalah, memasukkan pejantan unggul dari luar daerah/propinsi, gerakan penanaman hijuan makanan ternak dan ada kesepakatan penggunaan lahan yang di atur dalam Perda.

Iklan

Tentang nawawrad

lion grazy
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s